BANDAR LAMPUNG -- Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung bekerja sama dengan Tim Inisiatif Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (IPPRB) Nasional Kementerian Kelauatan dan Perikanan Dirjen Perikanan Tangkap merumuskan berbagai hal guna meningkatkan produktivitas rajungan dan menjaga kelestariannya di perairan Lampung. Anggota Tim Inisiatif Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (IPPRB) Hirmen mengatakan Pemeritah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan mengeluarkan Kepmen KP Nomor 70 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Perikanan Rajungan. Maka, dalam hal ini pemerintah ingin membangun pilot project budi daya ajungan yang ideal.
"Bersama semua para pihak, kami ingin bangun suatu inisiatif pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat, untuk mencapai solusi kesejahteraan, memastikan berjalannya perekonomian nelayan dan tetap menjamin kelangsungan rajungan," kata dia di Hotel Whiz Prime, Rabu (10/5/2017).
Pada kesempatan tersebut, pihaknya melibatkan HNSI, LSM, pemerintah, pabrik pengelola rajungan, para ahli dari IPB, Unila, dan Badan Riset Kelautan sesuai dengan Keputusan Gubernur No G/71/V.19/HK/2017.
Tugas tim tersebut, yakni menyusun konsep dan rencana aksi untuk pengelolaan rajungan, yang nantinya dikelola masing-masing kabupaten penghasil rajungan seperti Lampung Timur, Tulangbawang, Lampung Tengah. "Visi yang telah disusun akan disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga mereka paham bagaimana penangkapan rajungan yang baik namun tetap punya target yang jelas ," ujarnya.
Perencanaan dan implementasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian rajungan pun tetap terjaga dengan baik. Menurut dia, kontribusi rajungan Lampung sebesar 10 persen di tingkat nasional atau menghasilkan Rp250 miliar per tahun. Rajungan dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Bahkan, sebagian besar diekspor ke Amerika. Harga rajungan mentah saat ini, Rp70 ribu per kg.
"Namun yang menjadi tantangan, yaitu Amerika Serikat meminta produk ditangkap secara ramah lingkungan dan penanganan rajungan yang baik. Maka rajungan Lampung akan tetap bisa memenuhi syarat masuknya barang ke Amerika Serikat, " paparnya.
Sekretaris DKP Lampung Toga Mahaji mengatakan meskipun keunggulan komoditas saat ini adalah tambak udang, belakangan ini mulai turun dan kini ditopang rajungan.
"Kita harapkan rajungan bisa menutupi kekurangan produksi udang karena produktivtasnya menjanjikan dengan sinergi oleh stakeholder terutama masyarakat lokal," imbuhnya.
Ke depan, pihaknya akan terus mendukung upaya peningkatan jumlah rajungan seperti menerbar bibit rajungan di titik perairan yang layak sebagai tempat pelestarian rajungan.
"Kita juga akan beri bantuan bubu yang efektif dan untuk menangkap rajungan , tetap lakukan penyuluhan dan mengingatkan kesejahteraan masyarakat,"ungkapnya.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR