LIWA (Lampost.co) -- Minat petani untuk menggunakan pupuk organik di Lampung Barat hingga saat ini masih rendah. Hal itu dapat dilihat dari data serapan pupuk bersubsidi pada Januari - Februari lalu yang realisasinya masih nol persen.

Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Barat Noviardi Kuswan melalu Kasi pupuk pestisida dan alsintan Falent Herindo, Rabu (11/4/2018), menjelaskan berdasarkan rekapitulasi penyaluran pupuk bersubsidi tahun 2018 sampai dengan Februari lalu maka dapat diketahui bahwa penyerapan pupuk bersubsidi dari seluruh jenis telah mencapai 10,5% atau 1.779 ton dari total alokasi sebanyak 15.825 ton.



Dilihat dari data itu maka dapat dipastikan bahwa minat petani terhadap pupuk organik masih rendah karena realisasinya masih nol persen dari alokasi selama setahun sebanyak 1.035 ton.

Sebaliknya, realisasi atau daya serap pupuk yang tertinggi adalah pupuk ZA yakni telah mencapai 19,8% (257 ton) dari total alokasi 1.301 ton. Lalu pupuk NPK telah terserap 13,3% (677 ton) dari total alokasi 5.250 ton. Kemudian urea telah terealisasi 686 ton (10,1%) dari alokasi setahun 6.767 ton.

Falent mengakui jika daya serap pupuk organik setiap tahunya rendah. Setiap tahun penyerapan pupuk organik paling rendah sehingga alokasi pupuk organik selalu dikurangi. Masih rendahnya daya serap pupuk organik sebagian petani beralasan masih memilih pupuk kimia karena pertumbuhan tanaman lebih cepat. Sedangkan sebagian lainya beralasan memiliki produksi sendiri.

Khusus bagi petani yang belum dapat menciptakan pupuk organik sendiri, kata dia, pihaknya terus mensosialisasikan agar para petani lebih mengutamakan penggunaan pupuk organik dari pada kimia. Pupuk organik meskipun lambat dalam memberikan pertumbuhan pada tanaman tetapi lebih bermanfaat untuk jangka panjang karena sifatnya bisa memperbaiki kesuburan tanah.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR