BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Persatuan Mahasiswa Lampung (APML) menggelar mimbar bebas di Tugu Adipura, Bandar Lampung, Senin (21/5/2018). Aksi itu memperingati 20 tahun Reformasi Indonesia.
Koordinator Lapangan aksi Dimas Pamungkas mengatakan bergabungnya Indonesia dengan GATS dan WTO menjadi sebuah legitimasi kebijakan yang menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan.
Bukan hanya itu, lanjut dia, Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan dan Reforma Agraria palsu dan menjadi kamuflase saja. "Jokowi-JK memperjelas watak rezim hari ini yang antiterhadap rakyat miskin,” kata dia.
Dimas mengatakan, represivitas dan kriminalisasi pun sering terjadi pada gerakan rakyat, dan diberlakukannya UU tentang Ormas dinilai sengaja mempersulit gerakan rakyat pro demokrasi. Ini adalah beberapa kebijakan dari sekian kebijakan yang mereka sampaikan agar pemerintah ingat dengan amanah yang di emban. "Namun masih banyak sekali permasalahan yang ada di negeri ini,” kata mahasiswa UBL ini.
Sementara itu Prasetio, salah satu peserta aksi menambahkan mengenang peristiwa 1998 atau reformasi merupakan suatu kewajiban bagi pemuda agar tak melupakan sejarah bangsa.
Menurut dia, era 90an merupakan era yang sangat menentukan bagi Bangsa Indonesia. "Di era ini pemuda dan mahasiswa memiliki peran yang begitu sentral dalam menumbangkan rezim yang selalu bertindak sewenang-wenang," kata dia.
Dengan memperingati 20 tahun reformasi, lanjut dia, semoga pemuda dan mahasiswa mampu menjalankan tugas sebagai agen kontrol sosial dan agen perubahan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR