BENCANA tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 yang melanda pesisir Lampung tidak hanya berdampak pada ribuan masyarakat. Kejadian akibat dari letusan Gunung Anak Krakatau itu juga memukul berbagai sektor, salah satunya dunia pariwisata.

Efek bencana tidak hanya menghancurkan infrastruktur lokasi wisata, juga memangkas kunjungan wisatawan ke Lampung. Bencana tsunami membuat wisatawan lokal dan mancanegara banyak yang mengurungkan niat berkunjung ke destinasi wisata di Lampung. Mereka khawatir bakal ada bencana susulan.



Berdasar pada data Badan Pusat Statistik Lampung, anjloknya jumlah wisatawan turut memukul bisnis perhotelan.

Data BPS itu menyebutkan tingkat hunian (okupansi) hotel di Lampung pada Januari 2019 hanya 45,32%. Angka tersebut turun 24,13% dibanding dengan Desember 2018 yang mencapai 69%. Pada awal tahun tersebut, tamu yang menginap di hotel mencapai 38.484 orang terdiri atas 223 tamu asing dan 38.261 domestik.

Padahal, sektor pariwisata Lampung pada 2018, atau sebelum terjadi tsunami, sedang memasuki masa gemilang. Bagaimana tidak, jumlah kunjungan wisata, baik turis mancanegara maupun Nusantara, mencapai 12 ribuan, naik dari tahun sebelumnya sekitar 11 ribuan.

Kondisi tersebut membuat hunian hotel turut terdongkrak. Peningkatan hunian kamar hotel pada tahun lalu naik cukup signifikan hingga mencapai 59%. 

Tahun ini Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan bisa mendatangkan 14,8 juta wisatawan terdiri dari 14,5 juta wisatawan Nusantara dan 300 ribu wisatawan mancanegara.

Hal itu tidak lepas dari keinginan Pemprov Lampung untuk bisa menyaingi Lombok dalam hal menarik minat wisatawan.

Penurunan jumlah wisatawan yang datang sehingga memengaruhi hunian hotel harus segera dicarikan solusinya. Jangan sampai kondisi tersebut berlarut-larut karena bisa memengaruhi pendapatan daerah, bahkan kesejahteraan masyarakat Lampung.

Pemerintah daerah dituntut segera  memulihkan kondisi yang ada sekarang ini agar para wisatawan bisa kembali membanjiri destinasi wisata dan meramaikan hotel-hotel di Lampung. Kita dukung apa yang sedang dilakukan Pemprov dan Pemkab dalam upaya memulihkan kondisi destinasi wisata.

Namun, pembenahan tidak bisa dilakukan satu pihak saja.

Pembenahan harus dilakukan bersama-sama dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait sehingga akan dihasilkan solusi yang tepat demi perkembangan dunia pariwisata Lampung ke depan.

Para pengusaha hotel pun tetap harus mempromosikan keindahan destinasi wisata Lampung, sama seperti sebelum terjadinya tsunami.

Apalagi kini Gunung Anak Krakatau sudah menunjukkan kondisi yang semakin tenang dan stabil. Ditambah lagi sejumlah fasilitas pendukung dalam memudahkan wisatawan untuk datang ke Lampung kian lengkap.

Jalan Tol Baterpang dari Bakauheni sampai Terbanggibesar  kini sudah mulai dioperasikan. Begitu juga dengan adanya dermaga eksekutif di jalur penyeberangan Bakauheni—Merak akan mempercepat waktu dan membuat nyaman wisatawan dari Jabodetabek untuk berkunjung ke Lampung.

Belum lagi dengan diresmikannya Bandara Radin Inten II menjadi bandara internasional kian mempermudah kedatangan turis mancanegara datang ke Lampung.

Dukungan fasilitas tersebut bisa menjadi modal dasar untuk mengundang kembali para wisatawan memilih Lampung sebagai daerah tujuan wisata. Dengan upaya yang dilakukan tersebut, ditambah dukungan sejumlah fasilitas infrastruktur, diharapkan ke depan pariwisata Lampung bisa makin maju.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR