MULAI masuk bulan puasa, Inem juga memulai aktivitas barunya yakni menyiapkan bahan berbuka puasa keluarga majikan. Kerepotan demi kerepotan pun bertambah, sebab majikannya membeli apa pun yang dilihatnya di pasar.

"Iki piye, to? Yang satu dibening, satu ditumis, satu disanten. Bakal dimakan enggak semuanya ini ya?" Inem terus ngedumel sembari tangannya terus mengiris cabai dan bawang.



"Api kidah, Nem? Lagi posa kham ji," Kacung pun menanggapi saat lewat dan mendengar Inem berceloteh. "Kerjakan aja dengan ikhlas, tidak ada yang sia-sia."

"Eh, Abang. Assalamualaikum. Masih puasa, Bang, kok seger? Tidur melulu, sih!" kata Inem menggoda sahabatnya itu. "Aih, susah ini, Bang, majikan itu semua dibeli. Apa semua kemakan nanti setelah buka? Ini cuma nafsunya saja," lanjut Inem.

"Memang begitulah pengendalian diri itu, apalagi memang puasa itu untuk melatih mengendalikan diri, sehingga menjadi orang yang takwa."

***

Seperti difirmankan Allah dalam Alquranul Karim Surah Al-Baqarah Ayat 183, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, seperti juga diwajibkan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Surah ini menjadi patokan kaum muslimin untuk berpuasa wajib di bulan Ramadan. Salah satu tujuannya adanya takwa, melatih agar umat Islam tidak menuhankan nafsunya. Seperti yang diajarkan Rasulullah Nabi Muhammad saw puasa itu menahan lapar dan dahaga serta tidak melakukan apa-apa yang dapat membatalkan puasa.

Untuk itu, Rasul pun mengajarkan bagaimana agar terhindar dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa itu. Caranya dengan banyak beribadah, berzikir, bersedekah, bahkan iktikaf atau berdiam diri di masjid di akhir Ramadan. Dengan mengerjakan hal baik, hal buruk akan terkekang dalam niat saja.

***

"Ya, Nem, walaupun puasa kita masih banyak kurangnya, kita ya mesti terus berupaya menjalankannya seperti Kanjeng Nabi," kata Kacung.

Sebab, dalam Alquran Al-Azhab Ayat 21 jelas-jelas Allah memberi contoh teladan. Ayat itu berbunyi yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

"Nah, cocok, Bang! Biarlah majikan saja yang terseret nafsunya, ya. Kita jangan," jawab Inem.

"Payu, Nem, dang lagi nahok-nahok niku. Segera kerjakan saja apa yang diminta majikan. Kayak saya, kata majikan banyak istirahat, ya saya tidur aja," kata Kacung.

"Wah, iku mah podo wae bang. Puasa tidur melulu tidak sesuai contoh Nabi. Besok harus berubah, Bang," Inem memberi penjelasan ke Kacung. Astagfirullah.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR