JAKARTA (Lampost.co) -- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) resmi menjadi anggota holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Industri Pertambangan. Hal ini diumumkan PTBA pada acara jumpa pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Rabu (29/11/2017).

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Arviyan Arifin, mengatakan dengan adanya holding ini akan mempercepat visi PTBA menjadi perusahaan energi kelas dunia ke depan. "Dengan sinergi, masing-masing perusahaan anggota holding saling support untuk menjadi yang terbaik," katanya.



Masih menurut dia, dalam RUPSLB untuk PTBA yang setuju (menjadi Holding BUMN) sebanyak 95 persen lebih dari yang hadir. "Dari mekanisme yang hadir itu sudah termasuk kuorum jadi tidak ada lagi yang tidak setuju," ungkap Arviyan.

Dia menjelaskan meski telah menjadi anggota holding BUMN Industri Pertambangan, PTBA tetap melakukan aktivitas-aktivitas program apapun seperti biasa. "Tidak ada hal yang berubah dalam pengambilan keputusan seperti CSR atau lainnya, jadi hal-hal yang disampaikan tetap berjalan seperti biasa," terang dia.

Dari hasil RUPSLB tiga perusahaan BUMN yaitu PT Antam Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS) menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan terkait perubahan status Perseroan dari Persero menjadi Non-Persero.

Adapun langkah tersebut dikatakan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penambahan Penyertaan modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham PT Inalum (Persero).

Agenda utama RUPSLB PTBA mencakup tiga hal, yakni persetujuan perubahan Anggaran Dasar Perseroan terkait perubahan status Perseroan dari Persero menjadi Non-Persero sehubungan dengan PP No. 47/2017 tentang Penambahan Penyertaan modal Negara Republik Indonesia ke dalam modal saham PT Inalum (Persero), Persetujuan Pemecahan Nominal Saham (stock split) dengan mengubah ketentuan pasal 4 Anggaran Dasar Perseroan, dan Perubahan susunan Pengurus Perseroan. 

Sesuai PP No. 47/2017, sebanyak 1.498.087.499 saham Seri B milik PTBA atau sebanyak 65,02%, dialihkan kepada Inalum sebagai tambahan penyertaan modal negara dan saham Seri A PTBA yang merupakan saham pengendali tetap dimiliki negara.

Pembentukan holding BUMN Industri Pertambangan ini bertujuan  meningkatkan kapasitas usaha dan pendanaan, pengelolaan sumber daya alam mineral dan batubara, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi dan meningkatkan kandungan lokal, serta efisiensi biaya dari sinergi yang dilakukan. 

Dalam jangka pendek, holding baru ini akan segera melakukan serangkaian aksi korporasi, di antaranya pembangunan pabrik smelter grade alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sampai dengan 2 juta ton per tahun.

Lalu pabrik feronikel di Buli, Halmahera Timur, berkapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel per tahun, dan pembangunan PLTU di lokasi pabrik hilirisasi bahan tambang sampai dengan 1.000 MW. 

Dalam jangka menengah holding BUMN Industri Pertambangan akan terus melakukan akuisisi maupun eksplorasi wilayah penambangan, integrasi, dan hilirisasi.

Sementara dalam jangka panjang, holding ini akan masuk sebagai salah satu perusahaan yang tercatat dalam 500 Fortune Global Company. *

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR