KALIANDA (Lampost.co) - - PT Batu Mulia Andalas (BMA) di Dusun Telukharapan, Desa Sidomekar, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, membantah tidak kantongi izin lingkungan. 
Melalui kuasa hukum PT BMA, apabila izin lingkungan hidup atau Upaya Pengelolaan Lingkungan hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan hidup (UKL-UPL) sudah disetujui Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Lampung Selatan. 
"Sudah di setujui BLHD tahun 2016 silam," kata kuasa hukum PT BMA, Purnomo Sidik, Kamis (18/7/2019). 
Dijelaskannya, PT BMA sudah kantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dikeluarkan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung, nomor 540/1168/II.19/2016.
"PT BMA telah memenuhi syarat untuk memproduksi baru andesit," ujarnya yang diamani Sidik Efendi. 
Menurut Purnomo,  PT BMA sudah mendapatkan persetujuan izin usaha produksi oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Daerah Provinsi Lampung Nomor 540/11811/KEP/II.07/2016. "Jadi semua perizinan PT BMA sudah terpenuhi," ujarnya. 
Terpisah, Pj Kepala Desa Sidomekar, Fitri Hidayat menjelaskan PT BMA tidak pernah ada koordinasi ataupun surat pemberitahuan terkait aktivitas yang dilakukannya. "Kalau ke kami tidak ada, maka kemarin dilayangkan surat teguran," ujarnya. 
Namun, setelah dilayangkan surat teguran, tidak ada dari pihak PT BMA yang menindak lanjutinya hingga saat ini.  "Isi surat teguran hanya meminta atau menunjukan dokumen perusahaan dan apabila kurang lengkap agar dilengkapi," kata dia. 
Sebelumnya, sudah meminta langsung kepada pelaksana di lapangan mengenai surat pemberitahuan atau perizinan terkait aktivitas PT BMA yang sedang membuat jalan masuk.  "Pernah saya minta dengan pak Supri, tapi tidak diberikan, "ujarnya. 
Sementara itu, salah seorang warga sekitar mengaku belum pernah diminta tanda tangan terkait izin lingkungan oleh PT BMA. "Padahal setelah beroperasi nanti kami disini yang kena dampaknya," kata Suryana (47).
Masyarakat sekitar, kata dia, hingga kini masih menunggu izin atau perjanjian dengan perusahan terkait aktivitas setelah beroperasi nanti. 
"Masyarakat disini menunggu, karena aktivitas tambang batu menggunakan bahan peledak, kalau ada kerusakan siapa yang tanggung jawab," ujarnya. 
Dijelaskannya, menjelang hari raya Idulfitri 1440 H lalu, warga Dusun Telukharapan di beri uang sebesar Rp50 ribu oleh pihak perusahaan.  "Pada waktu ngasih duit disuruh tanda tangan, tapi itu izin masukin alat berat," kata dia. 
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR