TIGA jalan layang (flyover) di Bandar Lampung dipastikan belum selesai akhir tahun ini. Peresmian flyover tidak akan mewarnai semarak pesta pergantian tahun seperti yang direncanakan sebelumnya.
Penyelesaian pembangunan tiga flyover di Jalan Pramuka, Kemiling, dan sekitar Mal Bumi Kedaton (MBK) tersebut molor dari rencana semula yang ditargetkan selesai akhir tahun. Diperkirakan, pembangunan baru selesai pada akhir Januari 2018.
Pengerjaan proyek molor di antaranya karena pembangunan sempat terhenti terganjal kurangnya persyaratan. Kemudian, ada perubahan desain, yaitu ditambah panjangnya sehingga otomatis membuat pengerjaan memakan waktu lebih lama.
Pada akhir Desember 2017, diperkirakan pengecoran jalan layang baru selesai. Setelah itu, tinggal menunggu kematangan beton sekitar tiga minggu sebelum permukaannya diaspal.
Apa pun alasannya, pengerjaan proyek itu tidak sesuai dengan waktu yang direncanakan. Ini bukan masalah sepele. Molornya pembangunan ini jelas merugikan kepentingan publik. Sebab, masyarakat pengguna jalan yang setiap hari melintasi lokasi proyek pembangunan bakal lebih lama menikmati kemacetan di sekitar pembangunan jalan layang.
Kita memaklumi molornya pekerjaan itu bukan karena pihak kontraktor yang kurang profesional, melainkan karena perencanaan Pemerintah Kota kurang matang. Sikap Pemkot terlalu berambisi untuk segera mewujudkan proyek yang berakibat fatal.
Perencanaan yang kurang matang itu bisa dilihat ketika desain tidak sesuai dengan aturan, antara lain perubahan desain ketika pembangunan sudah dimulai. Akibat tergesa-gesa, kerugian pemerintah bukan hanya waktu, juga biaya bertambah besar. Lalu pengerjaan juga menjadi lebih rumit karena perubahan pengerjaan di sana-sini.
Belum lagi proses pembebasan lahan yang mau tidak mau harus kembali dilakukan ketika panjang jalan layang harus ditambah sesuai rekomendasi dari Kementerian PU-Pera.
Kasus molornya pembangunan jalan layang ini hendaknya menjadi pelajaran amat berharga agar Pemkot tidak lagi membangun terburu-buru. Lebih baik menunda dari pada menimbulkan masalah di tengah proses pembangunan.
Faktanya, ingin lebih cepat selesai, akibatnya malah lebih lama dari rencana semula. Kita berharap sisa waktu yang ada dimanfaatkan seoptimal mungkin agar penyelesaian proyek tidak kembali mundur. n

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR