BEBERAPA hari ini kita disuguhkan berita-berita rame nan menghebohkan dengan kembali terkuaknya prostitusi di kalangan para artis. Kali ini pihak kepolisian Surabaya berhasil menangkap dua muncikari dan dua pesohor sekaligus.

Aparat menyatakan jaringan prostitusi di kalangan selebritas yang tertangkap basah di Surabaya lumayan menggurita. Aparat mensinyalir terdapat 45 nama artis yang terlibat bisnis haram tersebut. Anna kidah! Rame tenan rek.



Meski prostitusi di kalangan pesohor sudah menjadi rahasia umum, publik tetap saja terkaget-kaget dan geleng-geleng kepala dengan berita tersebut. Terlebih nilai transaksi haramnya nyaris menembus angka ratusan juta.

Belakangan rame pula kelakar dari para netizen dan pengguna media sosial terkait peristiwa tersebut. Meme lucu bertebaran. Namun, tidak sedikit pula yang membahas fenomena ini rada serius macam di Qureta atau Mojok.co misalnya.  

Ada yang menulis prostitusi merupakan sebuah lingkup profesi yang sah saja digeluti kaum hawa dengan dalil hak asasi dan sebagainya. Namun, tidak sedikit pula yang menentang argumen itu dengan landasan moral, etika, dan agama tentunya.

Adapula artikel yang mengulas prostitusi bagian peradaban manusia. Syahdan praktik lancung ini sudah ada sejak 4.000—5.000 sebelum Masehi. Hingga muncullah frase yang cukup kontroversi, “Prostitusi salah satu profesi tertua di dunia”.

Nils Johan Ringdal dalam buku Love For Sale: A World History of Prostitution menulis prostitusi menjadi bagian peradaban bangsa Sumeria yang hidup di Mesopotamia antara 5.500—4.000 tahun SM. Prostitusi bagian dari ritual kepercayaan.

Pada masa itu, perempuan-perempuan yang mengabdi pada Dewi Ishtar, dewi cinta dan perang, menawarkan jasa kepada pria yang memberi uang ke kuil mereka. Jasa yang ditawarkan untuk menggunakan kekuatan suci yang berasal dari tubuh mereka.

Di laman Wikipedia kita juga dapat menemukan jejak prostitusi di Nusantara. Pada abad ke-18, kala prostitusi meluas, pemerintah Kolonial mewajibkan para pelacur rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dan wajib membawa kartu identitas pekerjaan mereka.

Entah benar atau tidak, ada juga yang mengupas prostitusi sebagai gejala alamiah. Penelitian perilaku binatang mendapati penguin betina di kutub sana sengaja melayani penguin jantan untuk mendapatkan “upah” kerikil sebagai material sarangnya.

Luar biasa memang. Berita menghebohkan prostitusi artis berbanderol Rp80 juta memicu beragam reaksi lanjutan. Mulai dari pesan WhatsApp candaan hingga menggairahkan proses literasi pertukaran ide-ide dan gagasan di jagad maya.

Seorang rekan diskusi saya pernah berujar, kita jangan terlalu sempit memandang prostitusi. Menurutnya, perilaku jual diri itu banyak bentuk dan rupanya, termasuk pemain bola yang terlibat pengaturan skor hingga praktik lancung di bilik-bilik suara.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR