AKHIR  tahun 2018, seleksi CPNS menyita perhatian kalangan muda yang ingin menjadi ASN. Sebanyak 3,6 juta orang melamar CPNS untuk memperebutkan 238.015 formasi.

Syarat administrasi yang ditentukan terbilang banyak, mulai dari KTP, kartu keluarga, SKCK, hingga surat keterangan akreditasi perguruan tinggi. Untuk proses pendaftaran secara online dilakukan bertahap dimulai dengan membuat akun di sscn.bkn.go.id. Diikuti dengan mengunggah swafoto, biodata, pilih instansi dan formasi, hingga berhasil mencetak kartu pendaftaran.



Prosesnya belum selesai. Pendaftar mesti mengirimkan kartu tersebut beserta berkas lainnya ke panitia pusat.

Tahap selanjutnya, ujian yang dilakukan berbasis komputer. Seleksi kompetensi dasar adalah yang pertama. Ujian tersebut terdiri dari soal wawasan kebangsaan, soal intelegensia umum, dan tes karakteristik pribadi.

Jika skor melampaui passing grade, kandidat akan melaju ke tes berikutnya: seleksi kompetensi bersama (SKB). Hingga kandidat dengan nilai tertinggi diumumkan dan berhak mengisi formasi.

Sejumlah teman yang mengikuti seleksi CPNS mengaku tes yang dikerjakan terbilang berat, terutama pada tes karakteristik pribadi. Hampir semua teman saya gugur pada tes tersebut. Tampaknya panitia benar-benar meramu soal sedemikian rupa sehingga hanya segelintir orang terbaik saja yang bisa menggapai dan melampaui ambang batas.

***

Pesta demokrasi 17 April mendatang melibatkan ratusan calon legislatif di Lampung. Mereka telah all out selama kampanye berebut kursi legislatif kabupaten/kota hingga pusat. Visi dan misi hingga dana telah dikeluarkan untuk unjuk gigi.

Kandidat caleg diajukan oleh parpol dan setelah dinilai memenuhi syarat seperti tidak pernah tersandung kasus pidana, yang bersangkutan dapat melanjutkan perjuangan menuju kursi legislatif. Belum ada deretan tes baik tertulis maupun berbasis komputer yang menjadi penentu kelayakan caleg. Ujian untuk mengukur tingkat kognitif hingga kematangan mental caleg belum dihadirkan dalam proses penjaringan wakil rakyat. 

Padahal, karakter dan mental merupakan sangat penting. Dalam perjalanannya, ada saja caleg yang tersandung masalah pidana. Baru-baru ini, Tim Satreskrim Polres Bogor menangkap komplotan pencuri bermodus gembos ban dan pecah kaca. Salah satu pelaku yang ditangkap merupakan caleg parpol berinisial SP (36).

Belum lagi kelakuan caleg AH asal Sumbar, yang diduga mencabuli anak kandungnya. Ia ditangkap polisi di Padang, setelah beberapa hari buron, dan masih ada nama-nama lain yang juga terciduk karena ketahuan boroknya.

Kalau untuk menjadi ASN harus menjalani serangkaian tes yang amat selektif, mengapa calon wakil rakyat yang terhormat tidak mengikuti ujian sejenis? Tidakkah terpikir oleh penentu kebijakan, tes tersebut amatlah penting?

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR