JAKARTA (lampost.co) -- Program Klaster Mandiri Dompet Dhuafa  memberdayakan masyarakat melalui program kesehatan, pendidikan, agama dan ekonomi secara terintegrasi, sehingga masyarakat desa sebagai unit-unit produksi bisa mandiri secara perekonomian.
"Dompet Dhuafa memiliki konsep di mana setiap  program pemberdayaan kami setidaknya harus bisa menguatkan ekonomi rumah tangga dan memperluas akses ke pasar," kata Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, drg. Imam Rulyawan, MARS saat menjadi keynote speech pada seminar Poverty Outlook 2017 yang bertempat di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Kamis (21/12/2017).
Menurut Imam, keberadaan program Klaster Mandiri tak lepas dari kondisi kemiskinan yang terjadi. Secara faktual, kinerja penanggulangan kemiskinan nasional mengalami pasang surut dalam dekade terakhir. 
Dengan menempatkan perubahan jumlah penduduk miskin sebagai sasaran kebijakan, terlihat kinerja perekonomian nasional makin menurun. 
Bila pada periode Maret 2011-September 2014 penduduk miskin berkurang 327 ribu orang per semester, pada periode September 2014 – Maret 2017 penduduk miskin hanya berkurang 85 ribu orang per semester. (Kamis, [21/12/2017]).
Pada 2,5 tahun pertama pemerintahan Jokowi, penduduk miskin di perdesaan turun 274 ribu jiwa sedangkan di perkotaan justru meningkat 317 ribu jiwa.
Namun pada periode September 2014 – Maret 2017 ini, kedalaman dan keparahan kemiskinan perdesaan justru meningkat signifikan, masing-masing 10,7% dan 17,5%. Kebijakan ekonomi Jokowi menunjukkan anomali, yaitu cenderung bias ke penduduk miskin perdesaan namun membuat kondisi kemiskinan perdesaan menjadi makin buruk.  
Kantong kemiskinan dengan kepadatan penduduk miskin dan biaya hidup yang tinggi didominasi justru kota-kota besar di Sumatera diikuti Jawa, seperti Kota Medan, Kota Bekasi, Kota Palembang, Kota Tangerang, dan Kota Surabaya. 
Kota-kota ini menghadapi masalah kemiskinan kota paling berat karena besarnya jumlah penduduk miskin, tingginya kepadatan penduduk miskin dan tingginya biaya hidup minimum.
 Hal ini menunjukkan pembangunan perkotaan di kota-kota inti tersebut gagal menghasilkan pertumbuhan yang inklusif. “Justru hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan melebarnya ketimpangan itu erat terkait," kata Imam. 
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidaklah otomatis menjamin tingkat distribusi kue ekonomi secara adil terhadap seluruh lapisan masyarakat. Biasanya justru sekelompok kecil The Haves-lah yang banyak menikmatinya.

Dompet Dhuafa menggelar seminar Poverty Outlook 2018 di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Kamis (21/12/2017). Dok. Dompet Dhuafa
Penyediaan infrastruktur dasar yang ditujukan untuk kelompok miskin memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas modal manusia yang secara efektif akan memutus rantai kemiskinan.
Secara mendasar, penyediaan infrastruktur pendidikan dan kesehatan secara merata untuk setiap warga negara, termasuk si miskin, adalah amanat konstitusi (Pasal 31 dan 34 UUD 1945). 
Karena itu, selayaknya fasilitas kesehatan dan pendidikan dasar ini tersedia secara merata di 511 kabupaten-kota, 7.098 kecamatan, dan 82.629 desa-kelurahan di seluruh negeri.
Kenyataannya, penyediaan infrastruktur kesehatan dan pendidikan dasar belum tersedia secara merata, dan seringkali pula dengan kualitas yang tidak memadai.  Ketersediaan infrastruktur untuk si miskin juga sangat timpang antar daerah. 
Dompet Dhuafa akan tetap fokus dalam pemberdayaan wilayah desa, terluar, termiskin, terbelakang dengan tetap bertumpu pada lima pilar pemberdayaan kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya dan agama.
"Dengan mentargetkan 100 desa di wilayah Indonesia dengan memakai indikator keberhasilan Desa Development (DD) Index yang sedang kami kembangkan,” tambah Imam.
Seminar menghadirkan narasumber  Rachmat Mardiana (Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informatika, Kementerian PPN/Bappenas), Ahmad Erani Yustika (Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan, Kemendes PDT), Marsudi Nur Wahid (, Pemimpin Redaksi Jawa Pos), Subroto (Redaktur Pelaksana  Republika), Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS, dengan moderator Vena Annisa ( V&V Communication). 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR