LIWA (Lampost.co) -- Akibat minimnya pasokan air akibat kemarau, produksi padi petani di Pekon Bandaragung, Kecamatan Bandarnegeri Suoh, Lampung Barat dihamparan seluas 15 hektare (ha) menurun drastis.

Hal itu diakui kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Barat Yedi Ruhyadi, menjelaskan ada 15 ha lahan tanaman padi petani di pekon Bandaragung hasil panenya mengalami penurunan drastis dari rata-rata 5,2 ton/ha kini hanya menghasilkan 1,5 ton/ha.



Penurunan produksi di 15 ha yang baru panen itu adalah dampak dari kemarau ini yang dikarenakan lokasi sawahnya adalah sawah tadah hujan dan jauh dari sumber air."Jadi ini bukan gagal panen tapi hasilnya memang mengalami penurunan drastis akibat kekurangan air karena kemarau," kata dia.

Dia menjelaskan, di wilayah Kecamatan Bandarnegeri Suoh lahan sawah mencapai 3.500 ha. Dari jumlah itu, terdapat 1 hamparan seluas 15 ha tersebut telah terdampak mengakibatkan produksinya menurun. "Dari 15 ha itu, 5,25 ha diantaranya masuk program Asuransi Usaha Tanam Padi (AUTP) dan saat ini petani tinggal menunggu dana klaimnya," ujarnya, Kamis, 22 Agustus 2019.

Pihaknya khawatir, jika sampai akhir September mendatang kemarau masih berlangsung maka diperkirakan akan banyak lahan pertanian yang mengalami kekeringan terutama daerah tadah hujan. Untuk itu ia mengimbau agar para petani memaksimalkan pemanfaatan dan perawatan sarana dan prasarana sumber-sumber air yang ada seperti saluran air, embung dan pompa, baik milik swadaya maupun yang didapat dari bantuan pemerintah.

Menurutnya, daerah hamparan sawah yang rentan terhadap kekeringan karena hanya mengandalkan air dari tadah hujan selain di Bandarnegeri Suoh yaitu Kecamatan Pagardewa dan Sekincau.

Ia mengaku, petani yang sudah panen dengan hasilnya yang mengalami penurunan, pihaknya langsung melapor ke pemerintah pusat sekaligus mengusulkan bantuan benih untuk musim tanam mendatang.

Untuk mengantisipasi kegagalan panen akibat bencana kekeringan maupun hama dan lainya, ia juga mengimbau agar petani kedepan mendaftarkan tanamanya pada program AUTP paling lambat 1 bulan setelah tanam.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR