KALIANDA (Lampost. co) -- Kemarau panjang yang terjadi di sejumlah wilayah kabupaten Lampung Selatan pada musim gadu pada 2018 ini menggenjot harga jagung. Sebab, musim panas yang cukup panjang telah mengurangi kadar air jagung sehingga kualitas produksi jagung semakin membaik dengan harga mencapai Rp 4.400 per kilogram. 

Pengepul jagung yang beroperasi sekitar kecamatan Ketapang, Sragi, dan Bakauheni, Dalijan (58) menyatakan kadar air hasil produksi jagung petani saat ini sesuai kebutuhan industri, yakni 14% sampai 17%.



“Kualitas jagung sekarang bagus sehingga harga naik signifikan dibandingkan saat panen bulan lalu yang hanya Rp 2.800/kg,” kata Dalijan di desa Sripendowo kecamatan Ketapang, Jumat (7/9/2018).

Selain karena kondisi cuaca, diakuinya kenaikan harga jagung juga karena hasil panen merosot  kekurangan air. 

“Pasokan yang lebih sedikit pada panen bulan lalu juga menjadi salah satu pemicu harga jagung yang tinggi,” ujar Dalijan.

Hal senada diungkapkan, pengawas perusahaan pengolahan jagung untuk pakan ternak di jalinpantim Bambukuning, desa Ketapang, kecamatan Ketapang, Kadek Sutris menyebutkan harga jagung di tingkat gudang maupun perusahaan pengelola jagung saat ini terbilang tinggi dikisaran Rp 4.400/kg untuk jagung dengan kadar air 15-17%. Sedangkan untuk kadar air dibawah 15% harganya menembus Rp 4.800/kg.

“Sementara dari segi kualitas kadar air pada panen musim lalu mencapai 35%., sehingga harga juga rendah dikisaran Rp 2.800 sampai Rp 3.100/kg,” ungkap Kadek. 

Jika dibandingkan dengan Permendag 58 Tahun 2018, harga jagung saat ini lebih tinggi. Dimana dalam Permendag No.58 Tahun 2018, harga acuan jagung dengan kadar air 15% di tingkat produsen ditetapkan sebesar Rp 3.150 per kilogram. Sedangkan harga di tingkat konsumen saat ini mencapai Rp 4.400 per kilogram.

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR