JAKARTA (Lampost.co)--Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relation  Indonesia (APPRI) Suharjo Nugroho meminta para praktisi Public Relation (PR) tidak menjadi spin doctor pembuat berita bohong atau hoaks. "Kabar bohong atau hoaks sangat berisiko memecah belah persatuan, dan tidak jarang bahkan hingga memicu perselisihan, terlebih lagi di tahun politik saat ini," Kata Suharjo di Jakarta, Jumat (13/7/2018).
Hoaks mengingatkan kita dengan istilah spin doctors atau propaganda. Spin doctors adalah individu yang memiliki kemampuan menguasai publik, menggerakkan massa, dan menguasai media sekaligus sebagai konseptor politik yang bertujuan mempengaruhi massa.
“Tak jarang spin doctors digunakan oleh praktisi PR tidak hanya untuk sebuah brand, korporasi, bahkan sudah meluas ke entitas politik dalam upaya menaikan citra,” jelas Suharjo.
Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran para praktisi Public Relations (PR) untuk bersama-sama memerangi hoax atau tidak melakukan spin doctors meski PR bertugas untuk membangun kredibilitas (pencitraan) dan kepercayaan publik kepada sebuah perusahaan atau orang tertentu. 
Suharjo mengingatkan, mulai tahun ini setelah pilkada berlalu, situasi bakal makin memanas jelang Pemilihan Presiden dan Anggota Legislatif 2019, karena semua berlomba-lomba melakukan pencitraan.
Menurutnya, Spin Doctors yang sering kali digunakan dalam dunia PR ini beda dengan model pencitraan tradisional yang selalu menghadirkan data dan fakta yang sebenarnya. 
Sebelumnya dalam forum diskusi yang digagas Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), dengan Tema Public Relations Dalam Tahun Politik, Karo Multimedia Divhumas Polri, Brigjen Rikwanto meminta para praktisi PR untuk memerangi hoaks yang bisa memecah belah masyarakat.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR