PANARAGAN (Lampost.co)--Loyalitas dan Pengabdian tinggi dalam melaksanakan tugas ditunjukkan Ipda Ismailsyah, Panit I Binmas Polsek Tulangbawang patut diapresiasi. Karena usai melaksanakan tugas di Pos Pengamanan Islamic Centre pada pelaksanaan Operasi Ketupat Krakatau 2018, selama 14 hari (7-24 Juni), ia langsung terlibat sebagai petugas Pam (pengamanan) di TPS (tempat pemungutan suara) Tiyuh/Kampung Tunas Asri, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat pada Pilkada Serentak tahun 2018.

Kapolres Tulangbawang AKBP Raswanto Hadiwibowo, mengatakan kejadian yang dialami Ipda Ismailsyah berawal usai melakukan Pam di TPS, Rabu (27/6) sekira pukul 15.45 WIB, saat dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter MX warna hitam merah BE 3306 CE menuju ke Polsek Tulangbawang Tengah, untuk melaporkan hasil pelaksanaan tugas yang telah dia lakukan, sepeda motor tersebut terlibat kecelakaan dengan mobil Avanza.
“Saat sedang melintas di jalan umum Tiyuh Mulya Asri, sepeda motor yang dikendaraai Ipda Ismailsyah ditabrak dari arah berlawanan oleh mobil Avanza warna abu-abu BG 1369 NV, yang melaju dengan kecepatan tinggi,” ungkap AKBP Raswanto.
Akibat kejadian tersebut, Ipda Ismailsyah mengalami luka yang cukup serius, dengan patah tulang di bagian tangan kanan dan paha kaki sebelah kanan.
“Usia kejadian kecelakaan, korban sempat menjalani perawatan di Puskesmas Mulya Asri, karena luka yang dialaminya cukup serius, tadi malam korban langsung dirujuk ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung,” terang Kapolres.
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Unit Laka Satlantas Polres Tulang Bawang, penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas tersebut dikarenakan sopir mobil berinisial RU (29), yang berprofesi wiraswasta, warga Gunungbatin Baru, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, mengemudikan kendaraannya dalam kecepatan tinggi dan hilang kendali sehingga menabrak sepeda motor yang sedang dikendarai oleh Ipda Ismailsyah.
“Pelaku saat ini sudah ditahan di Mapolres Tulangbawang dan akan dijerat dengan Pasal 310 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009, tentang lalu lintas dan angkutan jalan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp10 juta,” ujarnya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR