DALAM pernikahan adat Lampung zaman dahulu mengenal perkawinan seorang suami dengan banyak istri, terutama di kalangan raja-raja dan bangsawan adat. Jumlah istri dari para pemuka adat itu biasanya tidak terbatas. Pada masa itu mempunyai banyak istri adalah sebuah kebanggaan dan kaum wanita pun ketika itu akan merasa bangga jika dapat dipersunting keturunan raja. 
Menurut hukum adat lokal seperti yang berlaku di kalangan Lampung pepadun, yang juga tampak di daerah-daerah lain di Indonesia, para istri raja itu mempunyai kedudukan berbeda-beda, bergantung asal-usul wanita yang diperistri tersebut. Kedudukan mereka yang berbeda berakibat terhadap anak-anak keturunannya yang berbeda pula kedudukan adatnya.  
Hilman Hadikusuma dalam bukunya Hukum Perkawinan Indonesia pada bab Hukum Perkawinan Poligami dalam Hukum Adat Lampung menyebutkan ada lima macam istri termasuk stratifikasinya pada hukum adat Lampung, yaitu istri ratu, istri jajar, istri penunggu, istri pembantu, dan istri beduwa. 
Pertama, istri ratu, berasal dari putri anak raja adat lain yang kawin dengan melaksanakan upacara adat besar-besaran (ibal serbow), melakukan prosesi naik takhta adat (cakak pepadun atau mepadun). Setelah menikah berkedudukan sebagai permaisuri, bertugas dan berperan mendampingi kedudukan kepunyimbangan bumi atau marga suami. 
Perlengkapan pakaian adat perkawinan yang dikenakan lengkap memakai siger tarub (mahkota lengkap) dengan baju dan payung berwarna putih. Apabila suaminya menikah lagi mendapatkan gadis bangsawan yang sejajar dengan kedudukan istri ratu, istri barunya itu menjadi istri jajar (sejajar) dengan istri ratu, yang sama hak dan tugas peranannya dalam adat.
Ketiga, istri penunggu adalah istri yang menikah dan berkedudukan menunggu di muka kamar perumpu (kamar permaisuri) sebelum atau sesudah suaminya mendapatkan istri ratu. Istri penunggu berasal dari keluarga bangsawan tingkat menengah, yang ketika menikah dengan upacara adat bumbang aji. 
Setelah menikah berkedudukan sebagai pengiring istri ratu dan anak keturunannya dapat menjadi penerus keturunan punyimbang ratu atau punyimbang tiyuh. Pakaian adat pernikahannya memakai siger tarub yang perhiasannya kurang lengkap, baju dan payungnya berwarna kuning.
Keempat, istri pembantu, yang berasal dari keturunan bangsawan adat tingkat ketiga, yang berkedudukan sebagai punyimbang raja atau puyimbang suku. Upacara pernikahan adatnya adalah intar padang. Setelah menikah bertugas dan berperan sebagai pembantu pengiring ratu. 
Adapun anak keturunannya dapat menjadi cikal bakal kepunyimbangan raja atau kepunyimbangan suku dalam suatu tiyuh. Pakaian adat pernikahannya memakai kain tapis dan mahkota siger dengan mengenakan pakaian serta payung berwarna merah.
Selanjutnya, istri beduwa, yakni istri keturunan budak dikarenakan orang tuanya mempunyai asal usul yang tidak tentu, misalnya didapat dari peperangan, dari persimpangan jalan, dari kuli beban, dari rakit di sungai, atau merupakan bawaan dari istri ratu yang kesemuanya berasal dari asal usul rendah. 
Upacara pernikahannya sangat sederhana yang biasa disebut dengan istilah intar selep. Setelah menikah istri beduwa ini bertugas di dapur atau di ladang, anak keturunannya tidak mempunyai kedudukan adat, tetapi mereka wajib membantu pelaksanaan upacara adat sebagai budak. Pakaian adatnya tidak ada, tanpa mahkota, baju kainnya atau payungnya berwarna hitam.
Namun kaidah-kaidah poligami itu saat ini sudah tidak berlaku lagi di Lampung, bahkan telah terjadi kesimpangsiuran dalam pemakaiannya dalam tata cara adat. Runtuhnya kaidah adat poligami itu terjadi sejak zaman penjajahan dan masuknya nilai-nilai budaya lain dan perkembangan hukum di Lampung. 
Kedudukan demang, pesirah, dan kepala marga lambat laun pudar, menghilang berganti sistem pemerintahan baru. Saat ini di Lampung, bagi laki-laki yang memiliki lebih dari satu istri disebut sebagai meruwai bagi istrinya yang lain. 
Nyaris tidak ada pembedaan perlakuan antara mereka antara istri yang satu dan istri lainnya, tidak ada lagi istilah istri beduwa, istri ratu, istri jajar, istri pembantu, dan istri penunggu. 
 

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR