BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Polda Lampung telah merampungkan berkas perkara 5 tersangka pemburu yang menjerat, menembak mati, dan menguliti serta hendak menjual hasil kulit satwa dilindungi  ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung.
Dirreskrimum Polda Lampung Kombespol Aswin Sipayung mengatakan, pelimpahan tahap II yakni tersangka dan barang bukti, dilangsungkan Kamis (2/8/2018). "Sudah p21, dan kita langsung limpahkan," ujarnya kepada Lampost.co, Kamis (2/8/2018).
Aswin menambahkan dalam kelengkapan berkas perkara, penyidik subdit IV Tipiter juga dibantu oleh, BKSDA,Rhino Protection Unit (RPU), dan Wildlife Crime Unit (WCU), dalam kelengkapan berkas perkara, dan juga sebagai saksi ahli.
"Jadi sudah dilimpahkan ke Kejati, dan ditahan 20 hari kedepan, sidangnya nanti ditentukan Kejaksaan dan Pengadilan," kata mantan Kapolres Belawan itu.
Dari Penyidikan tersebut, belum ada saksi atau tersangka yang terlibat dalam perkara tersebut. Namun penyelidikan, dan pengawasan tetap dilakukan untuk mencari para pemburu lainnya, yang diduga kerap berkeliaran di sekitar TNBBS.
"Masih kita Lidik, sementara pengakuan kompolotan ini, mengaku baru pertama kali, tapi terus kita kembangkan," katanya.
Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Ditreskrimsus Polda Lampung mengungkap, kejahatan  penjualan bagian tubuh satwa yang dilindungi, khusunya kulit harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Para tersangka  yakni, AI (44) Warga Way Jepara Lampung Timur, SP (49), UG (42), PM (30), ketiganya warga Pematang Sawah, Tanggamus, dan SG Warga Pubian, Lampung Tengah.
Penangkapan pelaku juga bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, BKSDA,Rhino Protection Unit (RPU), dan Wildlife Crime Unit (WCU). "Sudah 5 orang diterapkan sebagai tersangka," ujarnya kepada Lampost.co, Rabu (1/8/2018).
Para pelaku diamankan pada Sabtu (3/6/2018) lalu, masing-masing di kediamannya. Penangkapan tersebut bermula, ada informasi dari masyarakat kerap ada pemburuan, dan penjualan kulit harimau dilindungi, di sekitar daerah Pematang Sawah, Tanggamus, yang berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).
"Pelaku menangkap harimau Sumatera, menembak, lalu mengulitiya, kulitnya ini dijual. Perannya ada yang pasang jaring, ada yang menembak, terus ada yang menguliti dan ada yang mau menjual" katanya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR