BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Usai perkara dugaan asusila dengan terlapor CE, Dosen FKIP Unila naik ke tingkat penyidikan, subdit IV Remaja Anak dan Wanita (Renakta) Dirreskrimum Polda Lampung segera memanggil yang bersangkutan untuk diperiksa sebagai saksi.

Kasubdit IV Renakta, AKBP I Ketut Seregi, Kamis (5/7/2018), mengatakan Pemanggilan CE dijadwalkan pada Senin atau Selasa 9-10 Juli mendatang. Surat perintah dimulainya Penyidikan (SPDP) perkara yang dilaporkan oleh DC selaku mahasiswi bimbingan terlapor dengan nomor laporan LP/B-67/IV/2018/SPKT tanggal 24 April 2018, sudah dikirim ke Kejaksaan Tinggi Lampung, pada Senin (2/7/2018) yang lalu.
"Kalau enggak Senin ya Selasa, itu sudah saya tandatangani surat pemanggilan, SPDP juga sudah" ujarnya kepada Lampost.co di Mapolda Lampung.
Hari ini juga Penyidik telah memeriksa dua saksi, pertama ibu pelapor, dan kedua pelapor sendiri yang diminta keterangan tambahan.
"Tadi ada empat saksi, cuma yang dua itu hanya tandatangan berkas saja, karena keterangan pada pemeriksaan awal kita nilai sudah cukup," kata Ketut.
Penyidik juga sementara tidak menambahkan bukti tambahan pada perkara tersebu, dikarenakan saat ini bukti permulaan untuk naik Sidik sudah cukup. Termasuk rencana saksi ahli pidana juga belum dijadwalkan untuk dipanggil. Namun dari pemeriksaan sebelumnya, Penyidik juga telah meminta keterangan saksi dua mahasiswi lain, yang diduga mendapatkan perlakuan serupa dari terlapor.
"Sudah cukup sepertinya, kita tunggu pemeriksaan terlapor kalau datang, dan liat perkembangan," katanya.
 
Sementara Bidang Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Unila, lembaga yang menjadi penasehat hukum CE dosen FKIP Unila, yang dipolisikan mahasiswi bimbingannya CE, belum menerima surat pemanggilan tersebut.
"Belum dapat infonya, nanti kami kroscek ke klien (CE), biasanya masuk ke kampus dulu," kata ketua BKBH Lampung Gunawan Jatmiko, saat dihubungi Kamis (5/7/2018).
Gunawan mengatakan siap mendampingi kliennya seusai jadwal pemanggilan, namun ia juga berharap agar Penyidik memeriksa saksi yang meringankan, agar ada keberimbangan.
"Saksi yakni mahasiswi bimbingan CE yang mengetahui prosedur saat berkoordinasi dengan kliennya soal skripsi, juga kita minta diperiksa. Jadi klien kita itu kalau bimbingan ad mekanismenya, yakni dua mahasiswi, jadi bisa dimungkinkan upaya dugaan asusila itu tidak bisa terjadi," ujarnya. 
Selain itu, saksi ahli pidana juga disiapkan, baik dari ahli pidana Unila, maupun dari kampus lain. Karena Penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Lampung yang melakukan pemeriksaan juga menggunakan saksi ahli pidana.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR