KALIANDA (Lampost.co)--Meski sempat terjadi aksi kericuhan, eksekusi 78 bidang tanah untuk pembangunan ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di Desa Tanjungsari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, berjalan lancar.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun lampost.co, proses eksekusi yang mendapat pengawalan ketat Kepolisian, TNI dan Sat Pol PP sempat terjadi kericuhan. Beberapa oknum masyarakat yang dianggap penyebab keributan langsung diamankan ke Mapolsek setempat. 
Sebanyak 43 rumah yang berada di 78 bidang langsung di gusur menggunakan alat berat setelah sebelumnya dibacakan putusan Pengadilan Negeri Kalianda, dengan nomor penetapan 10/Pdt.P.Eks/2018/PN Kla.




Masyarakat setempat yang rumahnya di gusur untuk pembangunan JTTS mendapatakan uang ganti rugi atas bangunan dan tanam tumbuh sebesar Rp5.172.458.026. 
"Uang ganti rugi sudah di konsinyasi atau ditiitpkan di PN kalianda," kata Panitera Muda Perdata, PN kalianda, Jamaludin, saat dihubungi lampost.co, Jumat (20/7/2018). 
Dijelaskannya, penolakan eksekusi oleh masyarakat setempat karena menuntut uang ganti rugi atas lahan yang mereka kuasai saat ini, bukan hanya ganti rugi tanam tumbuh dan bangunan saja. 
"Masalah ini sudah lama dan berlarut-larut, mereka tidak bisa tunjukan bukti atas kepemilikan tanah," ujarnya. 
Masyarakat setempat tidak punya atau miliki bukti kepemilikan atas tanah yang mereka tempati, sedangkan sudah ada warga lainnya yang miliki bukti. 
"Pembayaran uanga ganti rugi dibayarkan kepada pemilik tanah yang sah dengan bukti kepemilikan," ujarnya. 
Lahan yang ditempati masyarakat akan dibangun ruas jalan tol, kata dia, untuk kepntingan bangsa dan negara maka proses eksekusi harus dilakukan agar pembangunan berjalan.  "Proses eksekusi sudah selesai, selanjutnya pengembang menyelesaikan pembangunan jalan tol," kata dia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR