LIWA (Lampost.co)--Penanganan produksi perkebunan pascapanen terutama kopi khususnya untuk proses penjemuran saat ini banyak menggunakan plastik ultra violet.

Ide prnggunasn platik ini dicetuskan oleh tokoh masyarakat Pekon Gunungterang, Kecamatan Airhitam Suparyoto (50), yang keseharianya selain sebagai PNS juga menggeluti usaha kopi mulai dari budi daya hingga produk kopi siap saji, Minggu (13/5/2018).



Menurutnya, penggunaan plastik ultra violite untuk sarana menjemur kopi itu hasilnya sangat baik terutama dari sisi mutu dan kualitas. Selain karena mutunya, rasa kopinya juga lebih enak.
"Rasa kopi jika dijemur menggunakan plastik ultra violite lebih enak. Kemudian harga jualnya juga lebih mahal dan tampilan biji kopi yang  juga lebih bagus," kata dia.
Dia menjelaskan, kopi yang dijemur menggunakan lantai, rasanya dan mutunya kalah dengan kopi yang dijemur menggunakan terpal. Kemudian kopi yang dijemur menggunakan terpal juga kalah dengan kopi yang dijemur menggunakan plastik ultra violite.

Namun kelemahanya, kata dia, plastik ultra violite lebih mahal dan belinya juga mimimal 1 ton senilai Rp50 juta. Akan tetapi untuk dapat menjangkau hal itu maka satu-satunya cara adalah memesan secara berkelompok. Sebab kalau beli sendiri-sendiri biayanya mahal tapi kalau sistem kelompok maka biaya akan ringan karena digotong ramai-ramai.

Menurutnya, ada banyak keuntungan menjemur kopi menggunakan plastik ultra violet tersebut. Pertama selain mutu dan kualitas yang dihasilkan lebih bagus, juga lebih ringan. Karena pemilik kopi tidak harus bolak-balik menutup atau membuka dan menyimpan jemuran. Sebab menggunakan plastik ultra violite maka kopi yang dijemur telah terlindungi dari hujan maupun embun. Dengan menggunakan sarana plastik itu maka pemiliknya tinggal mengatur dan membaliknya saja agar jemuranya mendapat panas rata.

Saat tidak sedang musim kopi, kata dia, sarana tersebut juga bisa digunakan untuk menjemur hasil pertanian lainya misalnya menjemur selai, menjemur jagung, padi dan lain sebagainya.

Ketahananya juga bisa hingga 4-5 tahun bahkan lebih. Suparyoto mengakui, jika saat ini penanganan kopi oleh petani di Lambar sebagian besar masih menggunakan terpal dan lantai jemur. Bahkan sebagian masih ada yang menggunakan tanah. Padahal cara tersebut sangat mempengaruhi mutu dan kualitas kopi yang dihasilkan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR