SETELAH dijabarkan dan dijelaskan penemuan megalitik di pegunungan Sekala Bkhak, wilayah hidup orang Abung serta mengenai perburuan kepala dan kurban darah manusia, sangatlah penting untuk mengevaluasi semua kebenaran ini sesuai makna keseluruhan asosiasi budaya Abung dalam masa megalitik.

Pertama, kita beralih ke megalit. Di sana, dijelaskan mengenai kondisi objektif. Pada pengamatan seluruh objek megalitik harus dicoba menemukan keistimewaan terhadap bentuk pilar batu dan ubin batu tersebut, yang dapat membantu mendeskripsikan hal serupa seperti bentuk modelnya secara detail. Baru, Friedrich W Funke mampu menemukan makna dari batu-batu tersebut. Untuk itu, Funke dkk harus mengetahui bahwa dia bisa mendapatkan petunjuk penting terhadap bangunan dengan perbandingan peristiwa megalitik.



Pada zaman modern terdapat sejumlah bangsa di jalur hutan belantara di Asia Tenggara yang hidup dengan membuka ladang. Mereka juga memiliki budaya berburu kepala, kurban kerbau, dan memuja batu. Di semua bangsa ini terdapat dasar budaya antropologi fisik yang sama seperti pada orang Abung. Oleh sebab itu, dapat digunakan sebagai petunjuk penting-bentuk bangunan pada monumen tersebut dapat dibandingkan dengan peristiwa megalitik di Asia Tenggara lainnya.

Sebuah penelitian seluruh peristiwa di pegunungan Sekala Bkhak atas persamaan arah disimpulkan adanya keterkaitan dengan pemujaan matahari. Penemuan makna yang kurang dari penduduk yang sekarang di pegunungan tersebut harus dipikirkan kembali. Hasilnya tetap saja tidak memuaskan. Akhirnya, kali ini didapatkan kronologi peristiwa yang tepat dari objek megalitik.

Seluruh megalit yang ditemukan di pegunungan digolongkan menjadi dua kelompok berdasarkan bentuknya. Hal tersebut baik menhir, pilar batu dengan bentuk agak pendek, gemuk, agar ramping, maupun batu ubin dengan permukaan lebar mendatar.

Pertama-tama, Funke hendak mengamati batu-batu menhir. Bentuknya yang sederhana sangatlah umum dan menhir ini hampir tidak memiliki jejak pengerjaan tangan manusia. Menhir ini hampir selalu berbentuk sedikit meruncing ke atas seperti kerucut. Tingginya berbeda-beda antara beberapa desimeter dan maksimum satu setengah meter. Diameternya sebesar setengah atau sepertiga dari tingginya.

Adapun permukaan atas batu-batu ini hampir selalu halus. Dalam beberapa hal terdapat jejak pengerjaan tangan manusia. Tentu saja, batu ini sebelum pengerjaan sedikit banyak memiliki bentuk yang sekarang. Namun, dalam segala hal, juga pada batu yang terkecil, memiliki bentuk yang mengagumkan. Menhir-menhir yang paling kecil yaitu menhir nomor 27, 28, 30, 33, 35, dan 39, sama sekali tidak mencuat ke atas kurang dari setengah meter dari permukaan tanah.

Bentuk yang tampak dari pilar batu yang gemuk ini seperti kerucut tetapi ramping. Pilar ini berbentuk bulat hingga oval dan terlihat mengesankan seperti pilar ramping, beberapa hampir seperti tiang. Ketebalannya hanya sekitar seperempat dari tingginya. Yang masuk menhir dalam kelompok ini adalah objek nomor 44, 45, 47, 52, dan 55 di Kebuntebu serta salah satu dari kedua menhir ramping batu Kerangjang di Kenali.

Kelompok ketiga dari menhir di Sekala Bkhak menyajikan pilar batu berbentuk segitiga. Batu paling menawan di kelompok ini adalah batu nomor 3, 5, 13, dan 66 di Kebuntebu dan Batutulis di Bawang, pegunungan di Kenali.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR