KOTABUMI (Lampost.co)--Dalam dua tahun terakhir (2017—2018) sekitar 50% luas areal lahan tebu rakyat (TB) yang terkonsentrasi di sekitar Pabrik Gula (PG) Bunga Mayang, Kecamatan Bungabayang, beralih komoditas ke tanaman singkong dan jagung.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Pertanian (Distan) Kecamatan Bungamayang Dadang Raetul Alam, Rabu (9/1/2019), mengatakan pada 2017, luas tanaman tebu tercatat sekitar 6.000 hektare (ha) dan angka tersebut pada 2018 mengalami penurunan cukup drastis menjadi 3.000 ha atau dengan persentase penurunan sekitar 50%.



Terkait penyebab alih komoditas, dia menjawab pertama karena anjloknya harga gula dalam dua tahun terakhir. Pada 2017, harga gula milik petani dibeli pedagang gula lebih dari Rp10 ribu/kg, sedangkan pada 2018, harga gula sekitar Rp9.000/kg. Menurutnya, turunnya harga gula milik petani ini karena masuknya gula impor yang membanjir di Kabupaten Lampung Utara.

Selain itu, alih komoditas juga disebabkan masalah rendemen (kadar gula) pada batang tebu yang ditetapkan PG Bunga Mayang. Pada 2017, PG menetapkan kadar rendemen rata-rata untuk 1 ton batang tebu sekitar 7% pada 2018. Lalu penetapan rendemen di PG Bunga Mayang diturunkan menjadi 6%, bahkan ada yang di bawah 5%. Menurutnya, kondisi ini sangat merugikan bagi petani tebu.

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR