KALIANDA (Lampost.co) -- Memasuki musim tanam gadu, petani di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, mulai mengeluh. Pasalnya, saat melakukan penglohan lahan ketersediaan air menipis.

Yurnalis (35), salah satu petani Desa Kalirejo mengatakan memasuku musim tanam gadu saat ini mengalamai kesulitan untuk mendapatkan air, sehingga menghambat pegolahan lahan, seperti membajak lahan sawah.



“Sekarang mau garap lahan harus menyedot air dulu dari saluran irigasi. Kalau tidak begitu lahannya tidak bisa dibajak," kata dia, Selasa (17/7/2018).

Hal senada diungkapkan, Prawanto (48), petani Desa Rejomulyo. Dia mengaku sebagian besar petani terpaksa menyedot air di siring maupun dari sumur bor untuk menggarap lahan mereka.

 "Ketersediaan air yang ada di siring semakin menyusut. Akibatnya petani banyak yang buru-buru menyedot air karena takut tidak kebagian air. Bahkan, ada yang menyedot sumur bor," kata dia.

Dengan minimnya ketersediaan air, Purwanto mengatakan memasuki musim tanam gadu saat ini harus mengelurkan biaya tambahan untuk memebeli solar mesin pompa air.

"Musim tanam gaduh saat ini semua petani modal lebih. Kalau turun hujan petani dapat terbantu bisa mengairi lahan. Tapi kalau tidak hujan petani harus siap keluar modal banyak," katanya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (P3) Kecamatan Palas, Agus Santosa mengatakan meski ketesediaan air minim, namun ia optimis lahan seluas 7.200 hektare akan tertanami semua.

"Optimis akan sesuai target. Tapi, saya himbau untuk mengurangi resiko gagal panen, petani bisa mendaftarkan AUTP agar tanaman padi ada jaminannya," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR