LIWA (Lampost.co)--Untuk mendapatkan harga tinggi, petani kopi di Lampung Barat diimbau meningkatkan pengolahan agar mendapatkan hasil biji kopi berkualitas. 

Selain itu, memetik buah yang sudah matang atau berwarna merah. Sebab, buah kopi petik merah dan peningkatan pengolahan itu harganya jauh lebih menguntungkan ketimbang memetik buah yang masih hijau tua dan merah dipetik serentak menjadi satu.



Hal itu dijelaskan Skeretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Lambar Tunggul Simanjuntak mendampingi Kadis Tri Umaryani, Selasa (4/9/2018).

Menurutnya, imbauan agar petani kopi melakukan petik merah itu sudah sering disampaikan, namun hingga saat ini belum setengahnya petani yang melakukanya dengan alasan ingin cepat. Masyarakat petani kopi yang sudah mulai melakukan petik merah umumnya baru daerah di sekitar Way Tenong dan Airhitam. Hal ini juga didukung dengan sudah adanya pihak yang menampung biji kopi petik merah.

Sementara untuk petani kopi mulai dari daerah Belalau, Batubrak hingga Liwa dan Lumbok Seminung sampai saat ini belum ada petani yang melakukanya. 
Selain itu, kata dia, di daerah ini juga belum ada pihak yang menampung dan mengolah secara khusus biji kopi petik merah. 

Sementara sejumlah petani mengaku, memetik kopi merah itu cukup repot karena membutuhkan waktu yang harus berulang melakukan pemanenan. Sementara petik hijau dan merah atau campur yang penting sudah tua, itu waktunya cepat. Apalagi jika petani itu kebutuhanya hanya mengandalkan uang dari hasil kebun kopi saja.

"Banyak petani ini maunya cepat agar hasilnya juga bisa dijual cepat dan uangnya juga cepat dapat," kata petani yang enggan disebutkan namanya itu.

Paryoto, salah seorang home industri kopi sekaligus petani kopi di Pekon Gunungterang, Airhitam, Lambar menyarankan dan mendorong agar petani dapat meningkatkan kualitas biji kopinya melalui pengolahan pascapanen. Petik merah jika pengolahan pascapanen tidak mencapai kualitas grade, maka itu juga bisa masuk ketingkat asalan.

Peningkatan pengolahan pascapanen yaitu diupayakan caranya agar biji kopi yang dihasilkan bisa mendapatkan biji kopi kualitas grade 1 atau grade 2 atau 3 dan 4. Diluar itu adalah biji kopi asalan. Untuk saat ini biji kopi yang dihasilkan petani umumnya masih asalan.

"Pada pengolahan pasca panen diupayakan agar biji kopi yang dihasilkan harus mencapai kualitas grade 1 atau 2 sehingga harganya juga bisa tinggi. Jika kualitasnya grade 1 harganya bisa mencapai Rp30 ribu atau grade 2 maka Rp25 ribu/kg. Dibanding dengan harga asalan Rp19-20 ribu/kg," kata dia.

Paryoto menambahkan, selain memiliki kualitas grade, petani juga harus berupaya mendapatkan sertifikat kaping agar pihak petani bisa menjual langsung ke pihak ekspor. Pembuat sertifikat itu salahsatunya bisa dimintakan ke pihak Puslit Jember atau ada juga fain Robusta dan masih ada lembaga lainya.

Menurutnya, pihak ekspor itu berani menampung dengan harga sesuai jika petani mampu menunjukan sertifikat itu sebagai bukti bahwa kopi yang dimilikinya sudah berkualitas.

Untuk mendapatkan sertifikat itu, kata dia, petani bisa mengirim sample biji kopinya kepada pihak pembuat sertifikat. Kemudian kopi yang dikirim itu nantinya akan diuji dan dinilai lalu ditentukan harganya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR