KALIANDA (Lampost.co) -- Sejumlah petani jagung di kecamatan Ketapang, Penengahan dan Sragi, kabupaten Lampung Selatan yang tengah panen, mengeluhkan tingginya potongan kadar air di sejumlah gudang maupun pabrik jagung di wilayah tersebut. Pasalnya, harga jagung semakin rendah dengan harga beli yang dibanderol sejumlah gudang maupun pabrik jagung Rp3.050- Rp 3.100 per kilogram belum dipotong kadar air yang mencapai 30-40 persen per tonnya. "Harga makin rendah dan kami tidak dapat apa apa.  Bahkan bisa rugi," kata Sarto (48), petani di Desa Bangunrejo, Ketapang, kepada Lampost.co, Sabtu (10/3/2018).
Ia mengaku modal tanam hingga panen bisa menelan biaya Rp9 juta sampai Rp 10 juta per hektare. Dikatakannya,  petani jagung akan akan mendapat untung jika harga komoditas pertanian tersebut di atas Rp 3.700/kg dengan potongan kadar air 15-20%. "Harga bibit,  obat hingga pupuk mahal. Upah kupas,  upah panggul/ojek hingga upah rontok jagung juga mahal.  Kalau harga rendah, belum lagi ada potongan kadar air dan lain lainnya akan membuat petani sengsara bukan sejahtera," katanya. 
Hal senada diungkapkan Satiman, (50), petani jagung di desa Gandri,  kecamatan Penengahan.  Ia berharap pemerintah maupun perusahaan jagung menjalin komunikasi agar harga tidak terpuruk saat musim panen, yang mengakibatkan petani merugi. "Kami harap pemerintah bisa koordinasi yang baik dengan pihak perusahaan jagung,  terutama saat tiba musim panen. Sehingga harga stabil, dan tanpa potongan yang membebani petani.  Sebab potongan seperti kadar air,  kotoran maupun lainnya mempengaruhi harga semakin rendah," ujarnya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR