BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Bencana tanaman puso setiap tahunnya menjadi ancaman besar bagi petani khususnya pada musim penghujan atau redeng.

Banyaknya lahan sawah yang terendam banjir membuat tanaman menjadi rusak. Namun, rutinnya masalah itu datang tidak dibarengi kesadarab masyarakat untuk dapat mengasuransikan lahannya guna mengantisipasi kerugian dari dampak puso.



Kepala Bidang Tanaman Pangan,Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung, Herlin Retnowati menjelaskan tingginya resiko gagal panen pada iklim cuaca yang tidak menentu, sepatutnya lahan pertanian dilindungi melalui asuransi pertanian. Hal itu untuk mengantisipasi kerugian sawah puso. Namun, justru pentingnya manfaat itu masih belum disadari sebagian besar petani Lampung.

"Sampai sekarang ini masih sangat minim petani yang mengasuransikan lahan pertaniannya. Bahkan, petani masih menganggap asuransi sebagai barang baru, karena tradisinya yang tidak pernah membeli resiko dimuka. Padahal, jika pertanian di asuransi akan mendapatkan rasa aman," kata Herlin kepada Lampung Post, Senin (10/12/2018).

Dia melanjutkan, petani yang melindungi lahannya baru sebatas kurang dari 2.000 orang. Padahal, seharusnya semua petani itu mengasuransikan pertaniannya dan hal itu sudah disosialisasikan dua tahun lalu. Sebab, kalau petani ikut asuransi maka bisa klaim asuransi pertaniannya, seperti ketika ditemui gagal panen dan tanaman puso.

"Kami mensosialisasikan supaya mengajak petani ikut asuransi ke Jasindo. Padahal, asuransi itu disubsidi hingga 80% dari pemerintah dan petani hanya membayar 20% saja per hektarnya. Kalau nilai dan jumlah petani yang ikut ini saya tidak tahu pasti, karena prosesnya ada di kabupaten/kota," ujarnya.

Kendati demikian, lanjutnya, tanaman puso tetap mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa cadangan benih nasional untuk daerah. Bantuan itu untuk meringankan kerugian dan pemulihan dari tanaman lahan yang rusak. Untuk saat ini, pihaknya tengah menunggu hasil verifikasi lahan puso di Tanggamus untuk segera diajukan ke Kementerian Pertanian.

"Kami hanya mendata saja dan nantinya diajukan ke pusat. Contohnya, saat ini kami memverifikasi kerusakan tanamam yang sampai 80%. Kami meminta kelengkapan syarat administrasi dan dokumennya untuk lahan puso di Tanggamus," katanya.

 

 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR