KALIANDA (Lampost.co)---Sejumlah petani di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, enggan bercocok tanam bawang merah. Selain mahalnya harga bibit, nilai jual komoditas tersebut setelah panen juga selalu anjlok.

Warga Desa Sidoasih, Ketapang, Lampung Selatan, Sahuri mengaku dalam satu tahun terakhir sudah berhenti menanam bawang merah yang ditekuninya sejak lima tahun lalu. Hal itu lantaran ia kerap merugi lantran harga jual bawang merah yang anjlok.



Menurutnya petani bawang akan mendapatkan keuntungan jika harga diatas Rp20ribu/kg. Namun, selama satu tahun terakhir,  harga jual ditingkat petani hanya dikisaran Rp10ribu--Rp 15ribu/kg. "Saat ini harga bawang ditingkat petani cuma Rp 14ribu/kg. Dengan harga segitu masih rugi. Karena itu saya berhenti menanam bawang merah dan lahan diolah kembali menjadi sawah,” kata Sahuri, kepada Lampost.co, Minggu (11/2/2018).

Menurutnya untuk membeli bibit yang didatangkan dari daerah Brebes,  Jawa Tengah, petani sudah mengeluarkan modal cukup besar dengan harga Rp 25ribu/kg. Sedangkan lahan seluas 1 hektar membutuhkan bibit sekitar 1- 1,5 ton dengan hasil panen antara 6-7 ton per hektare. “Untuk beli bibit saja membutuhkan modal diatas Rp 25juta. Belum modal untuk beli pupuk, pengairan dan membangun sarana pertanian yang dibutuhkan lainnya. Tidak cukup modal Rp 50juta untuk lahan 1 hektar. Kalau harga masih dibawah Rp 20ribu/kg kami masih menanggung kerugian,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Doli (40), Warga Desa Pematangpasir, Kecamatan Ketapang. Ia mengaku lahan yang digarap menjadi tanaman bawang merah kembali dikelola menjadi lokasi tambak udang dan ikan bandeng. “Saat panen harga bawang basah Rp 18ribu dan kering Rp 22ribu/kg. Sementara waktu itu harga bibit mencapai Rp 33ribu/kg. Harga anjlok saat kami panen dan itu selalu terulang, membuat kami terus merugi,” kata dia.

 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR