KALIANDA (Lampost.co)--Puluhan petani cabai di Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, masih menunggu hasil tuntutan terhadap pelaksana proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di wilayah tersebut.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Lampost.co, tanaman cabai milik 12 orang petani setempat yang berusia sekitar 1,5 bulan rusak dan mati. Diduga kematian tanaman cabai akibat banyaknya debu dampak dari aktivitas proyek tol.
"Dari hasil turun kelapangan, keseluruhan tanaman cabai, seluas 6,5 hektare yang rusak menjadi keriting," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kecamatan Sidomulyo, Didik, Kamis (26/10/2017).



Dari 6,5 hektare tanaman yang menjadi keriting, seluas 1,5 hektare tergolong rusak parah. Ada beberapa penyebab tanaman cabai milik petani setempat menjadi keriting.
"Salah satu penyebab tanaman menjadi keriting karena kurangnya pasokan air," kata dia.
Saat ditanya penyebab kematian karena debu akibat proyek tol, Didik menjelaskan faktor debu yang berlebihan bisa merusak tanaman.
"Akan tetapi debu akan hilang kalau turun hujan. Permasalahannya, hujan tidak kunjung turun didaerah tersebut," kata dia.
Sementara itu, seorang petani setempat mengaku meminta ganti rugi kematian tanaman cabai sebesar Rp35 juta/hektare.
"Jumlah itu belum termasuk biaya tenaga kerja," kata Made Suparna (41).

Dijelaskannya, sebelum ada proyek tol, hasil tanaman cabai di daerah tersebut mencapai 9 ton per musim untuk lahan seluas setengah hektare.
"Tanaman saya setengah hektare, bisa menghasilkan 9 ton. Kalau sekarang, belum waktunya berbuah sudah mati," katanya.

Terpisah, Camat Sidomulyo, Affendi mengatakan belum ada jawaban dari pelaksana proyek tol terhadap tuntutan para petani.
"Hingga hari ketiga belum ada jawaban dari mereka," katanya. 

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR