BANGSA berdaulat tentu berdaulat pula dalam hal pangan. Karena itulah Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri melalui produksi lokal sehingga kita tidak memiliki ketergantungan kepada pasokan pangan dari negara lain.
Salah satu strategi pemerintah menjaga kedaulatan pangan adalah melalui program asuransi usaha tani padi (AUTP). Sebab, dengan petani kuat dan berdaya saing, tingkat produksi pangan terutama komoditas padi dalam negeri juga akan terjamin.
Terlebih, daya saing petani kita terbilang lemah akibat banyaknya risiko dan ancaman seperti adanya perubahan iklim yang mengakibatkan banjir, kekeringan, dan serangan hama. AUTP bertujuan melindungi petani dari beragam risiko tersebut.
Faktanya, subsidi yang diberikan pemerintah untuk para petani ikut serta dalam program AUTP masih dianggap remeh sebagian besar petani. Secara nasional, dari target 1 juta hektare (ha), baru 400 ribu hektare lahan pertanian terlindung asuransi.
Di Lampung, petani beberapa daerah seperti Lampung Barat, Lampung Selatan, dan juga Lampung Tengah pun belum antusias mengikuti AUTP. Masing-masing daerah tersebut memiliki angka kepesertaan asuransi jauh dari target yang ditentukan.
Di Lampung Tengah, Dinas Pertanian setempat menargetkan 5.000 hektare sawah ikut asuransi tanaman padi. Namun, sampai akhir November 2017, areal sawah petani yang didaftarkan pada program AUTP masih di bawah 1.000 hektare.
Pun halnya di Lampung selatan, dari 40 ribu hektare lahan pertanian yang ada baru 500 hektare saja yang ikut asuransi. Di Lampung Barat, dari target 1.000 hektare lahan masuk asuransi nyatanya hingga November baru 37 hektare yang terlindungi.
Padahal, jika dikalkulasikan, pembayaran premi oleh petani peserta relatif kecil, hanya Rp36 ribu/ha/musim tanam. seharusnya Rp180 ribu, tetapi karena ada subsidi dari pemerintah Rp144 ribu, petani hanya menanggung Rp36 ribu.
Klaim yang diterima petani cukup besar mencapai Rp6 juta. Cara mendaftar pun tak sulit, petani cukup mendaftar melalui kelompok, selanjutnya membayar premi. Berbagai kemudahan itu dianggap angin lalu oleh sebagian besar petani kita.
Program AUTP kurang diminati petani jelas merupakan pekerjaan rumah cukup berat bagi setiap pemerintah di daerah. Hal ini menunjukkan petani belum banyak tahu soal program ini. Karena belum tahu, mereka tidak ikut serta.
Jika petani mengetahui manfaat asuransi ini, dipastikan mereka tentu rela mengeluarkan Rp36 ribu per musim/hektare untuk lahannya. Jangan sampai, begitu ancaman dan bencana datang, barulah mereka baru tersadar pentingnya asuransi. n

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR