Bandar Lampung (Lampost.co): Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 2020 mendatang mulai terasa gaungnya. Saat ini para tokoh-tokoh yang muncul menjadi kandidat bakal calon kepala daerah tersebut sedang berjuang merebut perhatian masyarakat dengan berbagai cara sosialisasi untuk menaikan popularitasan. Bahkan para calon pemimpin tersebut sudah melakukan pendaftaran dipartai-partai politik yang telah membuka penjaringan.


Dalam Pilkada Serentak 8 Kabupaten/Kota di Lampung ada petahana yang juga kader partai siap berkompetisi yakni Lampung Selatan Nanang Ermanto dari PDI Perjuangan, Lampung Timur Zaiful Bukhori (Demokrat), Lampung Tengah Loekman Djoyosoemarto (PDI Perjuangan), Way Kanan Raden Adipati Surya (Demokrat) dan Edward Antony (PAN), Pesisir Barat Agus Istiqlal (NasDem) dan Erlina (PKB), Pesawaran Dendi Ramadhona (Demokrat) dan Eriawan (PDI Perjuangan), Metro Pairin (Golkar) dan Djohan (Demokrat) serta Bandar Lampung Yusuf Kohar (Demokrat) dan Eva Dwiana Herman HN istri dari Walikota Bandar Lampung Herman HN.




Meskipun begitu para petahana tersebut harus waspada dalam pertempuran pesta demokrasi. Belajar dari pengalaman, di Lampung banyak petahana yang tumbang melawan para penantang. Seperti di Pilkada 2018 M. Ridho Ficardo - Bachtiar Basri yang dikalahkan oleh Arinal Djunaidi - Chusnunia Chalim, kemudian Samsul Hadi - Nuzul Irsan yang dikalahkan oleh Dewi Handajani - AM Syafi'i. Dewi Handajani merupakan istri dari Bambang Kurniawan Bupati 2 Periode disana. Kemudian di Pilkada 2017, petahana di Tulang Bawang Hanan A Razak - Heri Wardoyo yang dikalahkan oleh Winarti - Hendriwansyah. 


Kemudian di Pilkada 2015 petahana di Lampung Selatan Rycko Menoza - Eki Setyanto dikalahkan oleh Zainuddin Hasan - Nanang Ermanto, di Way Kanan ada Bustami Zainudin - Adinata dikalahkan oleh Raden Adipati Surya - Edward Antony, di Pesawaran ada Aries Sandi Darma Putra - Mahmud Yunus dikalahkan Dendi Ramadhona - Eriawan. Kemudian di Lampung Timur petahana Erwin Arifin gagal melaju karena pada saat itu pasangannya Priyo Budi Utomo wafat sementara itu regulasi PKPU Nomor 9 tahun 2015 tentang Pilkada pasal 83 dinyatakan gugur dan tidak dapat diajukan calon atau pasangan calon pengganti.


Pengamat politik dan pemilu dari Universitas Lampung, Robi Cahyadi Kurniawan mengatakan gelaran Pilkada 2020 menjadi ajang 3 pembuktian yakni pertama pembuktian petahana, kedua pembuktian partai pendukung petahana baik yang menang atau yang kalah dalam Pilpres dan Pileg 2019 lalu, ketiga pembuktian militansi atau konsisten pemilih.


"Data menunjukkan tidak sedikit petahana yang tumbang dalam gelaran pilkada. Secara teori petahana sulit dikalahkan karena mereka memiliki semua sumberdaya baik politik, jaringan, birokrasi, finansial bahkan popularitas serta elektabilitas," katanya kepada Lampung Post, Rabu, 18 September 2019.


Kemudian ia mengatakan apabila ada petahana kalah pada pilkada 2020 mendatang maka menunjukkan bahwa sumbersaya yang mereka miliki betsifat semu dan hanya bayangan belaka. Kemudian juga kekalahan petahana juga dapat diartikan pemilih bosan dan jenuh dengan tidak terealisasinya janji politik, program kerja bahkan mungkin perilaku dan tingkah laku petahana serta kolega bahkan clientelisme yang ia punya.


"Jadi berhati-hatilah petahana, nasibmu diujung jari pemilih didaerahmu," kata Akademisi Ilmu Pemerintahan Fisip Unila ini. 


 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR