KETIKA Pangeran Dipatih tumbuh dewasa, ia memutuskan untuk membalaskan dendam ibunya. Ia melakukan perjalanan ke Kotabumi, menyerang daerah itu dan kembali ke Mumbang dengan sejumlah kepala yang disembelih. 
Dari kepala yang ditangkap, terdapat satu kepala yang menunjukkan wajah menyeringai. Kepala itu kemudian dibuang ke rawa. Ini terjadi di daerah Way Komering, hingga sekarang aliran rawa tersebut masih disebut dengan Sakamaha (senyum yang memanjang). Wilayah rawa itu terletak di pulau di tengah sungai Pedang Ulu.
Namun, Pangeran Dipatih meninggalkan Kampung Mumbang seketika, setelah ia kembali dengan membawa kepala dan pindah ke seberang tepi Way Komering, kemudian ia membangun daerah baru bernama Muntjakabau.
Sangatlah penting di sini juga ditemui peristiwa perburuan kepala oleh orang Abung dari kelompok barat laut, Buwei Lima. Jika wilayah di tepi Way Komering itu tidak lagi terletak di lingkup permukiman Buwei Lima yang sekarang. 
Funke pun mendengar satu adat lain yang sangat jelas di beberapa tempat di Nunyai dan Selagai Abung. Diceritakan bahwa dulu dirayakan pesta papadon besar di suku Abung Buwei Bahuga (kelompok Buwei Lima) di wilayah Bumi Agung, permukiman utama suku ini. Tempat itu terletak di Way Umpu. Sebanyak 40 kerbau harus disembelih untuk pesta papadon tersebut. 
Ketika mendekati hari perayaan dan para tamu berdatangan ke lokasi, di tempat yang ditentukan untuk kurban kerbau, tergeletak 40 kepala manusia.
Ketika singgah di Menggala, di Mego Pak Abung, Funke mengetahui hal semacam itu juga diketahui dalam versi yang sama. Hal penting adalah keterkaitan antara pesta papadon dengan tangkapan 40 kepala manusia.
Begitu pula cerita pahlawan Abung Minak Paduka Begeduh dibayangi perburuan kepala dan tradisi piala dari kepala. Seluruh pahlawan dari Abung ini wafat karena dibunuh.
Di daerah muara Sungai Tulangbawang, seorang perampok bersenjata dan mungkin pemimpin perompak Melayu-Bugis menggiring Radja di laut ke pedalaman. Setelah sampai, perampok ini membunuh Minak Paduka Begeduh dan mengambil kepalanya. Para putranya mencari kepala ayahnya yang terpenggal dalam panduan Subing dan menemukannya setelah pencarian yang lama di desa pesisir di rawa Tulangbawang. 
Para putranya berhasil membunuh Radja di Laut dan juga menyembelih kepalanya. Sebagai tanda kemenangan, piala dari kepala tersebut dibawa pulang, ke tempat kediaman suku Nunyai. Di kediaman suku Nunyai kemudian dirayakan pesta besar. Sebagai penutup, Minak Paduka Begeduh dimakamkan di Bukit Tjanggok. 
Pada Juli 1953, Funke menemukan makan ini di kaki lereng utara hutan belantara Gunung Abung. Di kaki pahlawan Abung tersebut, terkubur kepala Radja di Laut. Begitulah lawan yang tewas menjadi budak sang pahlawan. 
Pada Juli 1953, Funke mengikuti pesta adat besar Nunyai Abung di Rumah Sesat Kotabumi. Ini adalah pesta yang dirayakan dengan tari adat dan tari tigel secara turun-temurun. Pada siang dan malam hari diadakan pesta manjau. Suasananya sangat menyenangkan. Dan pada sore hari, Funke diumumkan secara resmi sebagai tamu adat.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR