KRUI (Lampost.co)--Pantai Karangnyimbur di Pekon Tanjungsetia, Kecamatan Pesisir Selatan, Pesisir Barat, atau biasa dikenal dengan Pantai Tanjungsetia, beberapa tahun ini telah menjadi destinasi terbesar wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Lampung. Pesona pantai ini juga telah terdengar hingga dunia internasional.

Ombaknya yang panjang dengan ketinggian yang sangat cocok untuk olahraga selancar, bahkan disetarakan dengan ombak di Hawaii, Amerika Serikat, yang lebih dahulu populer di dunia.



Pantai Tanjungsetia telah mengundang ribuan wisatawan asing setiap tahunnya dari berbagai belahan benua. Mulai dari Eropa, Amerika, Australia, Asia Timur, hingga Afrika datang berlibur dan berselancar di Bumi Para Saibatin dan para ulama tersebut.

Event internasional kejuaraan selancar, World Surfing League, yang diselenggarakan pihak swasta dan dibantu Pemerintah Pusat, provinsi, dan kabupaten. Hal itu terus dilakukan untuk mempromosikan potensi wisata di wilayah paling ujung bagian barat, Pulau Sumatera tersebut.

Salah satu efek baiknya, generasi muda di kabupaten itu, khususnya yang tinggal dekat dengan lokasi wisata, saat ini telah familier dan biasa melakukan olahraga surfing di beberapa titik lokasi pantai wisata yang ada di Pesisir Barat. Ya, mereka menjadi terbiasa melihat dan bergaul dengan turis-turis dari mancanegara.

Warga setempat, Sodpi (68), mengungkapkan lokasi yang dahulunya hanya berupa hutan belantara perkebunan kelapa itu mulai ramai dikenal wisatawan sejak berdiri vila dan penginapan pada 2000-an.

Seiring waktu, lokasi itu menjadi destinasi utama wisatawan ke Lampung. Kini harga tanah di pinggir pantai di wilayah itu terbilang mahal untuk ukuran tanah di Pesisir Barat atau bahkan di Lampung.

"Ramainya dan mulai dikenal mulai sekitar 2005. Ya, sekarang mahal, seperti tanah saya yang ada di pinggir pantai ini, ukuran sekitar 30 x 50 meter, tadinya hampir jadi dibeli oleh turis. Harganya Rp1 miliar, hampir jadi, si bule sudah kasih persekot (uang muka), tetapi entah mengapa kok enggak jadi," kata Sodpi ditemui di lokasi beberapa waktu lalu.

Tanah Saudara

Pada 2010, lanjut dia, ada tanah saudaranya yang tepat berada di samping tanah kepunyaannya. Tanah itu dibeli orang Australia, tapi atas nama kepemilikan orang Indonesia. Tanah laku terjual Rp480 juta ukuran 28 x 60 meter.

Sodpi berharap pariwisata Krui yang kian mendunia ini bisa dibantu pemerintah setempat. Sejauh ini belum ada solusi agar pemilik tanah di lokasi wisata itu tetap menikmati kesejahteraan dengan ramainya pariwisata tanpa harus menjual tanah milik mereka.

Sebab, akhirnya mereka atau generasi di kemudian hari akan terpinggirkan dan hanya menjadi penonton kemajuan dan modernisasi di wilayah itu.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR