DI tengah guncangan ketidakpastian ekonomi global yang berkelanjutan, bahkan terakhir serangan telak perang dagang dari AS, pertumbuhan ekonomi Tiongkok dengan 1,3 miliar jiwa penduduknya tetap bertahan tinggi. Pada kuartal I 2018, ekonomi Tiongkok tumbuh 6,8%, melanjutkan sepanjang 2017 tumbuh 6,9%, di atas target 6,5%.

Kemampuan mempertahankan pertumbuhan ekonomi tetap tinggi setelah dasawarsa pertumbuhan di atas 10%, dengan penduduk amat besar itu, jelas merupakan suatu model ekonomi yang lebih tepat diadopsi Indonesia yang juga berpenduduk besar dan negeri yang amat luas. Sedangkan Indonesia, setelah sepanjang Orde Baru tumbuh di atas 7%, kini cuma bisa bertahan di level 5%.



Apa beda kedua negara yang sama-sama memakai sistem kapitalis dalam perekonomian di balik sistem politik yang antagonistik pada kapitalisme? Perbedaan paling mencolok adalah dukungan kesiapan industri dasarnya.

Industri dasar Indonesia cuma bisa membuat pelat, pipa, dan batangan baja. Sedangkan Tiongkok, industri dasarnya sudah bisa membuat sendiri mesin-mesin industri, bahkan mengekspornya. Mesin-mesin industri selalu dibuat sesuai dengan realitas kultur dan ideologinya.

Karena itu, mesin-mesin industri Tiongkok selalu sesuai dengan realitas masyarakatnya. Hingga, senantiasa mampu bertahan dari guncangan panjang krisis global.

Sedang Indonesia, mesin-mesin industrinya kebanyakan impor dari negara kapitalis, jadi kurang sesuai dengan realitas masyarakatnya. Akibatnya, sejak dipasang terus terjadi kekurangsesuaian, menyulut deindustralisasi berkelanjutan. Contohnya, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB yang pada 2004 sebesar 28,34%, pada 2017 tinggal 20,16%.

Kecanggungan Indonesia dalam industrialisasi tanpa dukungan industri dasar yang mumpuni itu, akan terus menjadi masalah kronis yakni ketergantungan industrialisasi Indonesia pada mesin-mesin impor yang nyata-nyata tidak sesuai dengan realitas Indonesia.

Contohnya, realitas negeri kita yang kaya bahan mentah, mesin industrinya yang diimpor justru mengerjakan barang setengah jadi asal impor (perakitan). Komoditasnya malah diekspor mentah-mentah. Padahal seharusnya, industri manufaktur memproses bahan mentah itu (dari mineral tambangan sampai hasil hutan dan perkebunan) hingga menjadi produk kemasan yang bisa dipajang di etalase toko.

Tapi, kita belum punya SDM dan industri dasar yang bisa membuat mesin-mesin industri sendiri. Di situlah letak kelebihan Tiongkok dari Indonesia. ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR