REKOR pertumbuhan ekonomi sejak 2014 tercatat pada kuartal II 2018, sebesar 5,27%. Meski di bawah target APBN 5,4%, angka itu terbaik dalam periode lima tahun terakhir yang berada dari 4,7% hingga tertinggi 5,21%. Pendorong utamanya konsumsi rumah tangga yang memberi andil 55,43% dari PDB dan tumbuh 5,14% dibanding dengan periode sama tahun lalu 4,95%.

Penggerak konsumsi yang signifikan pada kuartal II 2018 itu, menurut Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto, adalah Ramadan dan Lebaran di mana dengan THR, gaji bulan ke-13, dan bantuan sosial, sekaligus dukungan pesta politik pilkada serentak. Dengan itu penjualan eceran tumbuh 6,42%, penjualan motor tumbuh 18,96% dari periode sebelumnya kontraksi 10,93%, penjualan mobil tumbuh 3,25% dari kontraksi 11,23%.



"Jadi gaji dan honor PNS bagus tumbuh 16,69%, bansos juga tumbuh 61,69%, itu menguatkan golongan terbawah, karena pemerintah perhatikan, sehingga persentase untuk pengeluaran rumah tangga lebih tinggi," ujar Suhariyanto. (detik-finance, 6/8/2018)

Sedangkan kegiatan politik juga mendorong konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) pada kuartal II 2018 tumbuh 8,21% (yoy). Meski tidak besar, kegiatan politik memiliki porsi di dalamnya. "LNPRT sekarang lebih tinggi dibanding dengan periode sama tahun lalu 8,52%," ujar Suhariyanto.

Selama April hingga Juni 2018, memasuki masa kampanye pilkada serentak hingga pemungutan suara. "Ada pergerakan, walau share-nya masih kecil, 1,21%," kata Sujariyanto. (Kompas.com, 7/8/2018) Seberapa besar nilainya 1,21% itu dari PDB kuartal II 2018 sebesar Rp3.683,9 triliun, hitung sendiri.

Suhariyanto mengatakan seluruh lapangan usaha tumbuh positif sepanjang kuartal II 2018. Namun, pertumbuhan tertinggi ditempati sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan angka pertumbuhan 9,93% dibanding dengan kuartal I 2018. Sementara dibanding dengan periode yang sama 2017, sektor itu tumbuh 4,76%.

Dua subsektor, hortikultura dan perkebunan, mencatatkan pertumbuhan sebesar 22,86% dan 26,73%. "Banyak tanaman yang panen seperti kopi, tebu, dan karet," ujar Suhariyanto. Kondisi cuaca yang lebih kondusif, juga dia sebutkan turut mendukung produksi sayuran dan buah-buahan meningkat.

Tumbuh positifnya semua lapangan usaha, menunjukkan ekonomi nasional dalam kondisi baik. Maka itu, kalau ada yang menyebut ekonomi rusak atau hancur, jelas itu hoaks. Apalagi di Lampung, pertumbuhan ekonominya 5,35%, dan selalu di atas nasional.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR