SELAMA 11 hari sudah pesta demokrasi Pemilu serentak 2019 berlalu. Tahapan pleno rekapitulasi suara masih berlangsung di tingkat kecamatan atau panitia pemilihan kecamatan (PPK). 

Kendati belum ditetapkan, hasilnya telah terlihat siapa calon presiden dan wakil presiden yang sukses meraih suara terbanyak. Demikian juga caleg dan partai mana saja yang berhasil mendapat kursi di parlemen, baik tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. 



Terkecuali terdapat kecurangan dan pergeseran perolehan suara. Dapat saja hasil akhir nanti berbalik 100 persen ketika Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merekomendasikan hitung ulang. 

Saya ingat betul pada Pileg 2014 terdapat caleg DPR RI dan DPRD Lampung. Pleno tingkat KPU provinsi berlangsung di salah satu ruangan di kantor gubernur Lampung. Dua nama di antaranya sudah dipastikan duduk di kursi legislatif. Keduanya berasal dari Partai Golkar dan PDI Perjuangan. 

Namun, pada saat pleno, kedua nama yang sejak awal di gadang-gadang mendapat kursi kandas di ujung pertarungan, lantaran Bawaslu merekomendasikan untuk membuka kotak suara dan melakukan perhitungan ulang. 

Hasilnya, terjadi manipulasi suara hingga akhirnya KPU memutuskan kedua caleg tidak mendapatkan kursi terbanyak. Dua nama lain yang mendapatkan suara terbanyak pun ditetapkan sebagai pemenang. Mungkin saja banyak kasus lain yang terjadi di tingkat kabupaten/kota. 

Hal itu tentunya menjadi pelajaran bagi kita semua. Sesempit apapun ruang untuk bermain, jika terdapat celah rentan dimanfaatkan oknum-oknum, baik caleg maupun penyelenggara, untuk “simsalabim”. 

Kita tentu berharap itu tidak terjadi pada Pileg dan Pilpres serentak 17 April 2019. Apalagi, semua mata dan pandangan tertuju jelas serta didukung perkembangan informasi dan teknologi saat ini. 

Apa pun permainan yang berlangsung selama perhelatan hasilnya sudah dapat disimpulkan. Meski mungkin saja masih ada sejumlah oknum yang terus berupaya mengotak-atik perolehan suara, yakinlah itu tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada risiko jabatan, karier, bahkan keluarga menjadi pertaruhan. 

Termasuk bagi siapa saja oknum yang kemarin sempat menaruh janji, tapi hasil tidak sesuai harapan dan ucapan. Tentulah mesti ada pertanggungjawaban. Hujan sehari meruntuhkan pengorbanan dan perjuangan. 

Kekalahan sudah tentu menyakitkan bagi siapa saja yang berkompetisi pada laga pesta demokrasi, apalagi cost politics tidaklah murah. Namun, menjadi wakil rakyat maupun presiden dan wakil presiden bukanlah satu-satunya sumber penghidupan. Pasti ada hikmah terbaik yang Allah Azza Wajalla persiapkan. 

So, bagi yang kalah berbesar hati dan berlapang dadalah. Jangan merajuk apalagi sampai menyakiti diri sendiri hingga berujung depresi. Dekatkan diri pada Sang Kuasa dan mintalah pertolonganNya. Semoga Allah memberi kekuatan, kesabaran dan jalan lain yang lebih baik.  Bersabarlah! 

 

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR