ILMU pengetahuan merupakan hal yang penting. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang tertera dalam Al-Quran Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan, apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah [58]: 11).

Ayat tersebut jelas menyatakan setiap umat Islam diwajibkan menuntut ilmu. Untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan tertentu, harus melalui proses pendidikan. Sejalan dengan usaha-usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bidang ilmu matematika dan sosial kemasyarakatan, salah satu usaha di antaranya adalah pendidikan. Ayat tersebut juga seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang memengaruhi perubahan orientasi dan budaya masyarakat.



Fenomena Jurnalistik

Hal ini juga menyebabkan terjadinya perubahan dalam dunia jurnalistik. Peristiwa perubahan ini disebut oleh Aceng Abdullah sebagai fenomena baru di bidang jurnalistik. Fenomena tersebut yaitu makin menurunnya tiras surat kabar, makin meningkatnya pengguna internet, dan makin berkembangnya jurnalisme warga. Kondisi ini menjadi ancaman bagi kebebasan pers yang datang dari eksternal, karena makin tingginya kebutuhan khalayak media massa.

Atas dasar itu, pola konsumsi informasi publik kini sudah bergeser. Masyarakat tidak lagi menjadikan media konvensional (media cetak dan media penyiaran) sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi. Karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang ditandai dengan munculnya media sosial, kini masyarakat tidak lagi sebatas konsumen informasi berita.

Masyarakat sekarang sebagai konsumen informasi sekaligus produsen informasi melalui media sosial. Melalui media sosial, semua isu, baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya, dengan cepat bergulir. Celakanya, masyarakat tidak lagi mempertanyakan akurasi dan kredibilitas informasi yang diperoleh dari media sosial.

Tantangan lainnya yang dihadapi dunia informasi diungkapkan Agung Fatwanto dalam opininya berjudul Epidemi Kebohongan. Menurutnya, kabar fiktif yang disebarkan melalui akun media sosial menyebar jauh lebih cepat dan lebih banyak menjangkau khalayak dibandingkan berita faktual.

Hal ini membuktikan fenomena maraknya penyebaran hoaks telah menjadi bagian dari kehidupan media sosial kita. Meskipun belum pernah ada kajian di Indonesia, ia meyakini fenomena tersebut menjangkiti masyarakat Indonesia, mengingat masih rendahnya tingkat literasi masyarakat kita. Berdasarkan UNESCO, pada tahun 2017 Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara yang diteliti.

Hal ini berdasarkan asumsi bahwa rendahnya tingkat literasi berkorelasi positif dengan kurangnya pengetahuan, keahlian, keterampilan, terlebih kemauan untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima. Untuk itu, perlu ada edukasi yang berkelanjutan. Upaya konkret edukasi dapat dilakukan dalam bentuk peningkatan literasi dan penumbuhan kesadaran etik. Lembaga pendidikan berperan dalam upaya peningkatan literasi siber. Media massa arus utama berperan menyajikan konten alternatif sebagai bentuk perlawanan atas konten hoaks.

Media Konvergensi

Menghadapi tantangan yang timbul akibat fenomena baru di bidang jurnalistik tersebut, industri media harus terus berinovasi untuk beradaptasi. Insan pers harus dibekali kompetensi berbasis teknologi agar tidak tersisih. Beberapa perusahaan media massa, baik cetak maupun elektronik, telah melakukan berbagai upaya agar tetap bertahan di era industrialisasi media, salah satunya dengan bermetamorfosis menjadi media konvergensi.

Konvergensi media merupakan salah satu inovasi yang dilakukan industri media untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi. Konvergensi industri media dan teknologi digital mengarah pada bentuk-bentuk yang dikenal sebagai komunikasi multimedia. Multimedia atau dikenal juga sebagai media campuran pada umumnya didefinisikan sebagai medium yang mengintegrasikan dua bentuk komunikasi atau lebih.

Kehadiran konvergensi media sebagai salah satu bentuk mediamorfosis yaitu suatu transformasi media komunikasi yang biasanya ditimbulkan akibat hubungan timbal balik yang rumit antara berbagai kebutuhan yang dirasakan, tekanan persaingan dan politik, serta berbagai inovasi sosial dan teknologi.

Adopsi teknologi digital oleh perusahaan media massa dalam melahirkan konvergensi media didukung faktor tekanan dalam bisnis media massa. Kini para perusahaan media massa berlomba-lomba menganut konvergensi. Kehadiran teknologi digital memengaruhi bentuk-bentuk baru dunia jurnalisme.

Konvergensi media merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari industri media. Justru, jika menghindarinya, industri media tidak akan maju bahkan mengalami kebangkrutan. Dalam menjalani konvergensi media, industri-industri media diharuskan memiliki berbagai media untuk dapat menjalankan bentuk multiflatform.

Bentuk ini memberikan keuntungan kepada industri media dikarenakan setiap bentuk media dapat menutupi kekurangan yang dimiliki media lainnya. Seperti halnya teaser berita di televisi dapat disampaikan melalui radio atau online ataupun teaser penjelasan lengkap data-data yang akan dimuat oleh media cetak dapat diberikan melalui web, televisi, ataupun radio.

Kehadiran konvergensi memberi peluang kepada wartawan untuk menyampaikan informasi menggunakan berbagai kanal media. Karena itu, wartawan di era digital mutlak untuk memiliki kemampuan menguasai peranti lunak dan keras untuk mempermudah proses kerja mereka. Wartawan tidak hanya dituntut untuk mampu menulis, tetapi juga memotret, mengedit, dan mengunduh berita, baik dalam bentuk teks, foto, maupun video. 

Kompetensi Wartawan

Teknologi membuat proses kerja wartawan kini semakin mudah. Namun, di sisi lain, ada kecenderungan terjadinya degradasi mutu pemberitaan yang disajikan. Akurasi, objektivitas, dan kredibilitas yang menjadi unsur penting mutu jurnalisme kian jarang dipenuhi. Padahal, fondasi utama yang harus dimiliki seorang jurnalis adalah moral, etika, wawasan, dan keterampilan jurnalistik.

Fondasi ini memiliki kedudukan yang penting bagi seorang jurnalis, sekaligus sebagai kompetensi yang harus dimiliki dan menjadi sebuah keharusan bagi siapa pun dalam menjalankan tugasnya termasuk wartawan. Tanpa adanya kompetensi, peran dan fungsi wartawan sebagai penyampai informasi sekaligus sebagai kontrol sosial tidak akan terlaksana dengan baik.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya, Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS Al-Ahzab [33]: 72).

Ayat tersebut menjelaskan Allah swt awalnya menawarkan amanat kepada seluruh makhluk-Nya, tetapi semua makhluk menolak amanat tersebut dan hanya manusialah yang sanggup memikulnya, walaupun ternyata manusia mempunyai kelemahan, yaitu amat zalim dan amat bodoh.

Sisi lain manusia dilengkapi dengan berbagai potensi sebagai dasar untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengemban amanat, baik yang berkaitan dengan ibadah ritual yang langsung berhubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun kegiatan yang berhubungan dengan sesama manusia atau kontrol sosial (hablum minannas).

Kedudukan amanat memiliki peran yang sangat penting dalam menjalankan roda kehidupan manusia, sehingga kalau amanat ini sudah banyak disimpangkan atau tidak terlaksana dalam kehidupan sehari-hari maka tunggullah saat kehancurannya. Bahkan, Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Lalu, ada seorang sahabat bertanya bagaimana maksud amanat disia-siakan? Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (Bukhari–6015).

Atas dasar itu, manusia dalam menjalankan amanatnya yang salah satunya adalah sebagai insan pers perlu memiliki kemampuan religius dan profesionalitas. Kemampuan ini dibutuhkan untuk melaksanakan kontrol sosial, mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan, dan penyimpangan lainnya.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang. Karena itu, pers dituntut profesional dan terbuka dikontrol oleh masyarakat. Kontrol masyarakat dimaksud antara lain oleh setiap orang dengan dijaminnya hak jawab dan hak koreksi oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemantau media (media watch) dan Dewan Pers dengan berbagai bentuk dan cara.

Seiring dengan itu pula, dalam dunia yang selalu berubah-ubah, sumber daya manusia (SDM) perlu menyesuaikan diri. Kini industri media membutuhkan SDM yang memiliki basis pengetahuan (knowledge-based worker) serta memiliki beragam keterampilan dan keahlian (multiskilling worker).

Hal itu sangat diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup dan daya saing perusahaan. Untuk itu, perlu dipersiapkan agar tidak resisten ketika terjadi perubahan. Persoalannya adalah belum semua SDM memahami arti pentingnya melakukan perubahan. Karena itu, diperlukan pemahaman yang baik terhadap tujuan perubahan dan manajemen perubahan agar SDM mampu melewati perubahan tersebut.

Pembaharuan Kurikulum

Sudah cukup banyak upaya yang dilakukan komunitas pers atau organisasi profesi wartawan untuk meningkatkan profesionalitas insan pers melalui diskusi, seminar, lokakarya, dan aneka ragam pelatihan dan pendidikan jurnalistik. Salah satu program yang diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kompetensi dan profesionalisme insan pers adalah Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). SJI-PWI dianggap solusi untuk mempersiapkan SDM yang siap menghadapi era baru media.

Namun, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan jurnalistik yang sudah berjalan masih belum memenuhi tuntutan perkembangan teknologi informasi dan era baru konvergensi media. Untuk itu, dibutuhkan evaluasi dan inovasi dalam hal kurikulum, instruktur, sarana dan prasarana, serta metode pembelajaran sehingga SJI dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan industri media dan perkembangan pers berbasis karakter di Indonesia.

Direktur SJI-PWI Ahmed Kurnia Soeriawidjaja dalam Focus Group Discussion (FGD) Pra Hari Pers Nasional (HPN) 2017 yang dituangkan dalam buku FGD Pra HPN: Selamatkan Masa Depan Jurnalisme menegaskan saatnya SJI-PWI memperbaharui kurikulum dalam mengantisipasi perubahan teknologi informasi yang kian dramatis.

Tak terelakkan, kehadiran jurnalisme digital dan media konvergensi menjadi tantangan zaman yang setiap saat terus berkembang seiring perkembangan teknologi informasi itu sendiri. Ahmed menegaskan berubah saja tidak cukup, harus berubah lebih baik. Artinya, profesi wartawan dalam mengantisipasi perkembangan era digital tidak cukup hanya dengan mengubah kurikulum SJI-PWI, tidak cukup dengan perubahan materi Uji Kompetensi Wartawan (UKW), tidak cukup dengan memperbaharui Kode Etik Jurnalistik (KEJ), tapi perubahan harus dibuktikan dengan peningkatan mutu jurnalistik yang lebih baik dari sebelumnya.

Tuntutan perubahan terhadap kurikulum SJI-PWI ini juga disampaikan Kepala SJI-PWI Jawa Tengah Addy Susilobudi dalam tulisan berjudul Kurikulum SJI Harus Sesuai Kebutuhan. Dia memunculkan pertanyaan apakah kurikulum yang sudah dilaksanakan selama ini sudah memenuhi kebutuhan para wartawan di berbagai daerah?

Pertanyaan ini muncul setelah penyelenggara SJI-PWI Jawa Tengah mendapat input dari total score yang cukup korelatif antara wartawan dengan tingkat pendidikan tertentu dan hasil kelulusan. Di Jawa Tengah yang tingkat pendidikan wartawannya relatif cukup baik masih terdapat ketimpangan. Artinya, kurikulum yang diberlakukan belum memperhatikan latar belakang pendidikan para wartawan yang mengikuti SJI-PWI.

Karakteristik dan Etika Jurnalistik

Menyangkut kondisi pendidikan dan pelatihan konvergensi media pada SJI-PWI, bahwa berdasarkan hasil penelitian, karakteristik dan etika dalam kegiatan jurnalistik memegang peranan penting terutama dalam menyediakan dan menampilkan berbagai informasi kepada masyarakat.

Terkait standar kompetensi, yang harus disiapkan peserta pelatihan adalah memiliki kemampuan kompetensi mengajar di bidang keahlian atau keterampilan mata pelajaran yang diminatinya. Mata pelajaran yang diminati memiliki daya tarik pengetahuan jurnalistik yang mumpuni. Pelatih diutamakan yang telah memiliki dan menggeluti profesi jurnalistik cukup lama serta lulus mengikuti seleksi training of trainer (TOT) khusus yang diselenggarakan oleh badan eksekutif SJI-PWI.

Pelatihan jurnalistik ini melingkupi hanya di Sekolah Jurnalisme Indonesia yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia. Lalu implementasi model pendidikan dan pelatihan ini dilakukan sebanyak tiga kali dengan peserta pada implementasi lapangan awal sebanyak 30 peserta, lalu implementasi lapangan terbatas 32 peserta, dan implementasi lapangan lebih luas 35 peserta dengan kriteria model pelatihan layak digunakan sebagai pelatihan dan pendidikan jurnalis.

Sementara pelaksanaan evaluasi dilakukan dengan mengolah data hasil angket dari peserta yang telah mengikuti dengan hasil evaluasi menghasilkan sebuah model pelatihan yaitu needs identify, training activity, learning objective, developing material, dan evaluation.

Dalam rangka upaya pengembangan model pendidikan dan pelatihan konvergensi media dalam meningkatkan mutu jurnalisme berbasis karakter pada Sekolah Jurnalisme Indonesia, usaha yang dilakukan menghasilkan sebagai berikut. (1) Ditinjau dari hasil penelitian dan pengembangan terkait model pendidikan dan pelatihan konvergensi media berbasis karakter yang sesuai dengan kebutuhan pada SJI-PWI, maka menghasilkan sebuah model pelatihan yang layak. (2) Ditinjau dari hasil karakter yang dihasilkan untuk jurnalis itu, karakter yang dihasilkan adalah (a) jujur dan bertanggung jawab, (b) sifat mendidik, (c) sifat kehati-hatian dalam menyampaikan informasi, (d) sungguh-sungguh mengajak pada kebaikan, (e) berkepribadian islami, (f) serta berlaku adil dan cerdas. 

(3) Ditinjau dari mutu jurnalis, model ini mampu meningkatkan mutu para jurnalis yang meliputi (a) independen, (b) memegang kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis, (c) menyampaikan informasi yang dapat dipercaya, (d) menyampaikan informasi yang akurat, (e) saling menghormati, (f) melaksanakan hak dan kewajiban dengan benar, (g) menyampaikan informasi yang dibutuhkan publik, (h) aktif mengikuti pelatihan dalam rangka meningkatkan kualitas diri, (i) memiliki tanggung jawab profesi (responsibility) dan integritas pribadi (integrity) yang tinggi, (j) memiliki jiwa pengabdian kepada publik atau masyarakat dengan penuh dedikasi profesi luhur yang disandangnya.

(4) Ditinjau dari aspek kurikulum, pelatihan ini berhasil dapat mengembangkan bahan ajar sesuai dengan kebutuhan peserta pelatihan. Berdasarkan penelitian dan pengembangan, dihasilkan sebuah model pelatihan dari uji coba dengan olah data hasil angket dan jawaban para responden (peserta pelatihan). Hasil model pelatihan itu sangat layak dan efektif digunakan sebagai model pelatihan dan pendidikan konvergensi media untuk saat ini.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR