LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 13 June
5978

Tags

LAMPUNG POST | Persekusi
Nova Lidarni, wartawan Lampung Post. Dok. Lampost.co

Persekusi

BEBERAPA waktu terakhir, kata persekusi menjadi akrab di mata dan telinga. Tulisan-tulisan di media cetak nasional hingga tayangan berita di televisi, banyak membahas tentang persekusi.
Persekusi sebenarnya istilah lama yang baru-baru ini ramai dibicarakan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas.
Persekusi marak dibicarakan setelah terjadi peristiwa yang dialami remaja berusia 15 tahun berinisial PMA, warga Cipinang Muara, Jakarta Timur, serta Fiera Lovita, seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Solok, Sumatera Barat.
Keduanya mengalami tindakan persekusi akibat unggahan status mereka di media sosial. PMA misalnya, yang mengalami persekusi pada 28 Mei 2017 akibat perbuatannya yang dianggap menghina salah satu ormas dan pimpinannya melalui media sosial. Akibatnya, PMA mengalami persekusi oleh sejumlah orang yang mengaku sebagai simpatisan ormas tersebut.
Sedangkan Si Dokter mengalami teror dan intimidasi setelah mengunggah status bernada sindiran terhadap tokoh tertentu. Bahkan, Fiera mengalami persekusi saat di mobil bersama kedua anaknya pada 22 Mei 2017. Akibatnya, tindakan yang diterimanya, Fiera pun memilih keluar Kota Solok untuk sementara waktu.
Media sosial memang menjadi tempat paling mudah untuk mengeluarkan uneg-uneg ataupun celoteh lainnya. Sampai-sampai keluarlah dari mulut beberapa teman menyikapi kondisi per-Fesbook-an saat ini. "Males banget ih mau buka Facebook sekarang. Isinya ya hujatanlah, yang merasa paling benar, paling hebat sendirilah. Facebook sudah enggak asyik lagi."
Bahkan di timeline seorang teman di FB menuliskan status, "Kembalikan fungsi Facebook sebagai ajang narsistik dan lebay."
Begitu gerahnya pengguna Facebook melihat status-status yang berseliweran di timeline akun mereka. Tapi apa hendak dikata, itu hak pemilik akun. Untuk menghindari aksi persekusi terulang lagi, semestinya kita lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Direktur Eksekutif ICT Watch Donny BU memberikan saran soal beretika dalam menggunakan media sosial, yakni pertimbangkan tiga hal sebelum mengunggah status ke laman media sosial kita. Pertama, bayangkan jika yang kita tulis itu diucapkan langsung. Lalu, pikirkan manfaatnya dan terakhir cek kebenaran hal yang akan kita unggah.
Persekusi sekilas terdengar mirip perkusi alias instrumen musik yang keluar dari benda-benda apa pun yang menghasilkan suara. Tapi yakin deh, lebih enak dengar perkusi meskipun untuk mendapatkan suara indahnya harus dipukul, dikocok, atau digosok. n

LAMPUNG POST
TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv