PEMILIHAN Umum Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Legislatif 2019 telah selesai. Meski terdapat kendala di beberapa wilayah, secara umum pesta demokrasi terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia ini berjalan aman dan lancar.

Rabu (17/4), tepat pukul 15.00, hasil pemilihan presiden yang sudah dinanti-nanti hampir seluruh masyarakat akhirnya muncul. Semua stasiun televisi nasional dan berbagai media menayangkan hasil quick count (hitung cepat). Adapun lembaga survei yang melakukan quick count di antaranya Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, CSIS-Cyrus, dan Charta Politika.



Semua lembaga survei tersebut kompak menyatakan hasil hitung cepat dimenangkan oleh pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dengan persentase sekitar 54%—55%, sedangkan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sekitar 44%—45%.

Menilik Pilpres 2014, hasil hitung cepat lembaga survei dan real count dari KPU RI sama. Saat itu Joko Widodo-Jusuf Kalla menang atas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Akankah hal itu akan terulang tahun ini? Saya rasa kita, masyarakat Indonesia, harus tetap menahan diri untuk menunggu hasil perhitungan resmi dari KPU. Jangan sampai melakukan hal yang berpotensi memecah belah bangsa.

Kita juga patut mengapresiasai dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang selama masa kampanye hingga pemilihan selesai tetap mampu menjaga situasi politik. Saya berharap hal ini diikuti seluruh pendukung baik dari kubu 01 dan kubu 02 hingga pengumuman resmi dari KPU.

Saya berharap baik kubu 01 maupun 02 tidak menjadikan bangsa Indonesia ini terbagi. Kubu 01 dan 02 itu biarlah berlalu bersama usainya pemilu. Setelah pemilu ini, mari kita semua bergandengan tangan, tidak ada 01 atau 02, yang ada hanya 03. Sesuai bunyi sila ketiga yakni Persatuan Indonesia.

Pada sila ketiga ini, setidaknya ada beberapa makna terkandung, antara lain menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan; rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara; cinta tanah air dan bangsa; kemudian bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia; serta memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Bagaimanapun juga, kita tetaplah saudara sebangsa dan setanah air. Tentunya hubungan kita tidak hanya berhenti pada pilpres ini. Persaudaraan kita akan tetap terjalin sampai kapan pun. Mari kita doakan siapa pun yang dinyatakan terpilih sebagai presiden dan wakil presiden menjadi pemimpin yang amanah; pemimpin bangsa yang mampu menjadikan negara ini negara yang kuat dan makmur. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR