LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 6 June
3406

Tags

LAMPUNG POST | Persaingan Kebenaran
Padli Ramdan, wartawan Lampung Post. Lampost.co

Persaingan Kebenaran

SETIAP orang bebas menyampaikan kebeneran, termasuk bebas mengambil hikmah dan kebenaran dari siapa pun. Adakalanya kebenaran ditemukan bukan dari kaum cerdik pandai atau cendekia. Bisa saja sumber kebajikan berasal kalangan biasa atau orang gila.
Dalam sebuah wawancara dengan Tirto.id, ulama Quraish Shihab mengungkapkan bahwa boleh mengutip pendapat orang kafir dalam tafsir, mengutip ucapan orang gila yang mengandung hikmah, atau mengutip pendapat ulama Syiah. Jadi, ilmuwan tidak boleh takut menyampaikan pendapat yang dianggapnya benar.
Kebenaran tetap menjadi kebenaran meskipun disampaikan musuh atau orang yang paling dibenci sekalipun. Selama hal yang disampaikannya adalah benar, sebab itu patut didengarkan. Namun, apakah sebuah kebenaran harus disampaikan dengan memaksakan kehendak. Disampaikan dengan mengerahkan massa.
Buya Syafii Maarif pernah mengungkapkan dalam tulisannya di Republika bahwa Nabi Musa dan Harun dalam menghadapi Firaun, sang tiran kelas satu yang mengaku sebagai tuhan tertinggi, diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran dengan tutur kata yang lemah lembut. "Sampaikanlah oleh kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) tutur kata yang lemah lembut, siapa tahu ia akan ingat atau takut.” (QS Thaha: 44).
Namun, kebenaran yang paling kita yakini sekalipun bisa saja mengandung kekeliruan. Manusia yang memiliki nafsu dan hasrat politik bisa saja salah dalam menemukan kebenaran.
Sifat atau pemikiran bahwa kebenaran yang kita genggam sangat mungkin salah, harus ditanamkan. Sikap ini penting agar kita tidak mudah menghakimi orang lain dengan nilai yang dianut dan tidak memaksakan kebenaran terhadap pihak lain yang juga menyakini kebenaran versinya sendiri.
Apa yang disampaikan oleh Ibn Hajar al-Haitami sangat penting agar mengingatkan semua pihak tentang potensi kesalahan pada kebenaran yang dianut. Al Haitami mengungkapkan bahwa, "Mazhabku benar dan mengandung kesalahan, mazhab selainku salah dan mengandung kebenaran." (Husein Ja'far Al Hadar, Tempo).
Kebenaran yang ada dalam setiap orang harus terpancar keluar dengan kebaikan bagi sesama manusia. Nilai-nilai yang diyakini akan lebih memiliki makna manakala menular dalam perilaku yang penuh kasih sayang.
Saat ini publik dihebohkan dengan munculnya golongan bigot yang kerap memaksakan kebeneran dan tidak mudah menerima perbedaan dan kebenaran pihak lain. Muncullah aksi persekusi terhadapat sebagian orang yang menyuarakan pendapatnya.
Menurut M H Ainun Najib, bangsa ini dihadapkan pada masa dengan manusianya saling mempertentangkan kebenaran. Kebenaran versi masing-masing terus dihadap-hadapkan. Kita pun terjebak dan dibuat linglung dengan pertarungan dengan dalih kebenaran masing-masing. Segala cara kerap dilakukan untuk memenangkan kebenaran versinya. Adakalanya hoax dianggap sebagai suatu kebenaran, terkadang fakta dicap sebagai hoax.
Mudah-mudahan pertentangan ini lekas berakhir dan semua pihak menahan diri untuk mengunggulkan golongannya. Buya Syafii pernah menyampaikan harapan agar generasi yang akan datang bisa menilai dengan akal yang lebih sehat dan jernih sehingga bangsa ini jauh lebih sejuk dan saling mengasihi.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv