PRAMUGARI merupakan kru dari pesawat sipil komersial yang siap menerima keluhan dan aspirasi penumpang di pesawat. Mereka tetap tunduk aturan perusahaan maskapai, namun masih bisa mengutarakan aspirasinya.

Iya kidah, kik mak ngasi cawa gegoh kuli tambang de ana (Iyalah, kalau tidak boleh bicara sama seperti buruh tambang).



Seperti Asosiasi Pramugari Profesional AS (APFA) mendesak maskapai di negaranya menunda pesawat Boeing 737 Max 8 tidak terbang. Mereka meminta kebijakan pemeirntahnya mengikuti puluhan kebijakan negara pengguna Boeing itu.

Seperti dikutip kantor berita Reuters, alasan penangguhan terbang oleh sejumlah negara itu akibat dua kecelakaan dengan korban terbesar. Di Ethiopia dengan korban 157 orang dan di Indonesia dengan 189 korban.

Acak dengisko tian no, dang kik aga celaka luwot. Wat-wat gawoh (Lebih baik dengar aspirasi mereka, jangan kalau bakal celaka lagi. Ada-ada saja).

Sikap FAA ini telah memicu Asosiasi Pramugari Profesional Federal (APFA) AS bertindak dan mendesak Doug Parker-Direktur Eksekutif American Airlines, bos dari lebih dari 26 ribu pramugari yang tergabung dalam APFA-untuk membuat keputusan yang tidak akan lakukan FAA.

"Pramugari kami sangat prihatin dengan kecelakaan yang menimpa pesawat ET 302 milik maskapai Ethiopian Airlines baru-baru ini, yang telah memicu kekhawatiran atas adanya isu keamanan pada 737 Max 8," demikian bunyi pernyataan APFA.

"Banyak perusahaan penerbangan global yang disegani telah memutuskan tidak menerbangkan pesawat mereka. Kami meminta CEO kami Doug Parker untuk mempertimbangkan dengan kuat tidak menerbangkan pesawat ini hingga penyelidikan menyeluruh dapat dilakukan.

"Meskipun kami tidak dapat menarik kesimpulan prematur, penting untuk bekerja dengan pabrikan, regulator, dan maskapai penerbangan untuk mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kekhawatiran keselamatan kami yang sangat penting.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR