BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Bencana menjadi musibah yang tidak dapat diduga waktu dan korban yang terkenanya. Hal itu pun membuat banyak kerugian, baik jiwa maupun material, terhadap korbannya. Namun, kehilangan itu sepatutnya dapat terminimalisasi jika menggunakan perlindungan dalam perluasan asuransi.

Branch Head Asuransi Astra Lampung Ekki Primanda Ramadhan menjelaskan gelombang tsunami Selat Sunda meratakan beberapa daerah di Lampung dan Banten pada Sabtu, 22 Desember 2018. Bencana yang disebabkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau itu mengakibatkan kerusakan fisik bangunan dan kendaraan di daerah pesisir.



"Kejadian itu selayaknya dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat untuk dapat melindungi harta benda dan keluarga yang ditinggalkan korban jiwa dengan mengikuti program perluasan asuransi," kata Ekki kepada lamppost.co, Kamis (3/1/2019).

Berdasarkan lingkup perlindungannya, kata dia, asuransi terdapat pada program perlindungan standar (basic coverage) dan perlindungan perluasan (extended coverage). Perlindungan standar akan menjamin kendaraan terhadap risiko kecelakaan, benturan, perbuatan jahat, pencurian, dan kebakaran.

Sementara perlindungan perluasan terdapat layanan memperluas penjaminan untuk risiko tanggung jawab hukum pihak ke-3, bencana alam, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan, badai, tsunami, hujan es, banjir, genangan air, tanah longsor, atau gejala geologi/meteorologi lainnya, kerusuhan dan demonstrasi, hingga aksi terorisme dan sabotase.

Jenis perluasan itu dapat dilihat di polis standar asuransi kendaraan bermotor Indonesia (PSAKBI). “Setiap asuransi belum tentu memiliki perlindungan bencana alam, karena memang perlindungan bencana alam ini sifatnya adalah perluasan,” ujarnya.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR