JAKARTA -- Meskipun  harga jual mencapai Rp70 ribu per kilogram,  permintaan akan  rajungan  (portunis) saat ini  cenderung terus naik terutama dalam memenuhi permintaan pasar ekspor ke berbagai negara khususnya Amerika Serikat. Berdasar pada data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2015 menunjukkan volume ekspor rajungan dan kepiting Indonesia mencapai 29.038 ton dengan nilai ekspor mencapai  US$321.842.

"Permintaan dan harga yang menggiurkan ini, di satu sisi telah memicu overeksploitasi di berbagai wilayah, dan saat ini mulai terlihat kecenderungan penurunan stok yang cukup drastis.," kata Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Slamet Soebjakto, di Jakarta, Senin  (12/6/2017).
Slamet  juga menyampaikan keprihatinannya atas pemanfaatan yang cenderung eksploitatif tersebut. Sebab itu, perlu ada upaya konkret bagaimana memulihkan ketersediaan stok rajungan ini. "Peran teknologi budi daya, saya rasa bisa didorong sebagai penyangga stok bagi komoditas yang terancam seperti rajungan ini," ujarnya.
Slamet menjelaskan Permen KP No 52 tahun 2016 merupakan perangkat untuk melakukan tindakan preventif bagi perlindungan komoditas termasuk rajungan. Upaya ini penting, apalagi saat ini peran perikanan budi daya juga dinilai sebagai jawaban bagiamana di satu sisi kelestarian jenis ini bisa dijaga, namun di sisi lain masyarakat akan menikmati nilai ekonominya secara langsung. 
Inovasi teknologi budi daya saat ini telah mampu memproduksi benih rajungan secara massal. Keberhasilan ini menjadi jawaban atas kekhawatiran tersebut. “Intinya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan nilai ekonomi dapat dilakukan secara simultan melalui peran teknologi perikanan budi daya,” imbuh Slamet
Sementara itu, Nono Hartono, Kepala Balai Perikanan Budi Daya Air Payau (BPBAP) Takalar Sulawesi Selatan, membenarkan pihaknya telah mampu menghasilkan produksi massal benih rajungan. Nono menjelaskan beberapa tahun ke belakang BPBAP Takalar terus mengupayakan perekayasaan pembenihan terhadap komoditas ini dan hasilnya saat ini sangat memuaskan. “Keberhasilan ini, tentunya akan menjadi nilai tersendiri, bagaimana kita mengawal dan mengimplementasikan pesan Ibu Menteri untuk melakukan pemanfaatan sumber daya rajungan secara bertanggun jawab dan berkelanjutan,” jelas Nono saat dikonfirmasi.
Saat ini Unit Pembenihan Rajungan BPBAP Takalar terus menggenjot produksi benih rajungan. Sebagai gambaran tahun 2016 produksi Benih rajungan mencapai  126.400 ekor dan tahun 2017 ini ditargetkan 800 ribu ekor benih.  Nono menambahkan benih akan digunakan untuk kegiatan budi daya dan restocking
Nono mengakui kegiatan budi daya memang telah cukup lama dilakukan masyarakat, namun belum memenuhi kaidah budi daya yang baik, di samping itu benih yang digunakan masih tergantung dari stok alam. Dengan adanya keberhasilan produksi massal benih ini, diharapkan akan mampu mensuplai kebutuhan benih bagi masyarakat. Kebutuhan benih nantinya tidak lagi bergantung dari alam, selain itu rajungan hasil budi daya diharapkan akan memenuhi kebutuhan pasar tanpa melalui eksploitasi seperti yang saat ini terjadi. 
“Tahun 2015 kami juga lakukan pendampingan teknologi perbenihan di UPTD milik pemda dan diseminasi budidaya di sentra-sentra penghasil rajungan seperti di Kalimantan Timur," kata  Nono . Tujuannya menyosialisasikan inovasi teknologi yang berkelanjutan, sehingga kelestarian stok rajungan tetap terjaga
Sebelumnya Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara juga telah melakukan kegiatan sejenis, yaitu restocking benih rajungan sebanyak 200 ribu ekor di tiga titik, yaitu perairan Pulau Panjang dan kawasan perairan Jepara yang juga diprakarsai dua perusahaan yang bergerak di bidang usaha rajungan, yakni PT  Kemilau Bintang Timur Cirebon dan Harbor Seafood USA.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR