LIWA (Lampost.co) -- Pihak Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mengakui dari total luas untuk wilayah Lampung Barat, Pesisir Barat dan Bengkulu mencapai kurang lebih 128 ribu hektare, sekitar 30 persen mengalami kerusakan akibat aktivitas perkebunan tanpa izin.

Kepala bidang TNBBS Wilayah II Liwa, Amri saat dihubungi Selasa (17/4/2018), mengatakan jika sejauh ini tercatat kurang lebih 30 persen dari total luas TNBBS yang ada di wilayah Lampung Barat, Pesisir Barat dan Bengkulu mengalami kerusakan akibat perkebunan tanpa izin.



"Bahasanya bukan perambah, tapi perkebunan tanpa izin, kalau 30 persen dari 128 ribu hektar, artinya kurang lebih 33 ribu hektare yang rusak," kata Amri.

Ia mengatakan mayoritas kerusakan TNBBS diakibatkan oleh perkebunan tanpa izin berupa perkebunan kopi."Banyak dijadikan perkebunan kopi," ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, upaya petugas taman nasional untuk memulihkan TNBBS dari aktivitas perkebunan liar telah banyak dilakukan, mulai dari penurunan perambah di tahun 2011, operasi rutin, penyuluhan hingga kegiatan penghijauan.

"Kalau upaya sudah tidak henti-henti, tapi memang aktivitas perkebunan tanpa izin masih tetap terjadi," kata dia.

Menurut Amri, salah satu faktor yang menyebabkan para pekebun kopi tanpa izin bertahan di dalam kawasan adalah karena tidak memiliki lahan di luar taman nasional."Kalau di pukul rata per orang dua hektare berarti ada kurang lebih 15 ribu orang yang berkebun. Mereka ini bertahan di dalam kawasan karena tidak memiliki lahan di luar. Berkali-kali dikosongkan juga tetap kembali lagi," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR