PADA batu Kenjangan juga terlihat batu persembahan. Namun, tidak ada satu pun adat yang memberikan informasi makna menhir-menhir di Tangkit Kurupan, Talangpadang, dan Kebuntebu untuk pembangunan kompleks megalit ini.

Funke berpikir hingga awal abad ke-19 Irawan, di suku Abung, kurban manusia harus dilempari dengan  batu, diikat pada tiang, dan dibunuh di sana dengan tombak juga belati. Setelah mati, kepalanya dipotong. Darah yang kemudian muncul akan ditampung dan dicampurkan dengan darah kerbau. Keluarga dari yang terbunuh mengoleskan badannya dengan darah ini.



Dalam kurban darah ini, tiang memiliki peran penting. Sayangnya tidak diceritakan apakah yang digunakan tiang dari batu atau kayu. Jika tiang itu terbuat dari kayu, perlu dicatat bahwa pada orang Abung di zaman modern kayu menggantikan penggunaan batu. Sejak berabad-abad, papadon dan semua keperluan yang terkait di dalamnya hanya dibuat dari kayu.

Kedekatan hubungan tiang-tiang itu dengan kurban tampak penting pada menhir zaman dahulu. Begitu pula pada pesta papadon yang hingga kini masih diselenggarakan, satu dari sejumlah kerbau yang disembelih dihias dan diikat pada tiang yang juga dihias warna-warni sebelum upacara kenaikan.

Kurban darah yang diganti dengan kerbau hingga kini merupakan bagian penting dari upacara-upacara yang ditentukan oleh adat. Tiang kurban tidak selalu muncul dalam setiap upacara. Oleh sebab itu, lima kerbau disembelih untuk penebusan dosa suatu pembunuhan di luar Irawan dan pada hari pemakaman, pada hari ke-3, ke-7, ke-40, dan ke-100 setelah pemakaman.

Hingga sekitar tahun 1880, pada kematian alami orang Abung yang terkemuka, disembelihkan beberapa ekor kerbau. Untuk setiap kerbau itu gundukan pemakaman orang yang meninggal sedikit dinaikkan. Pemerintah kolonial Belanda melakukan campur tangan dan mencoba mendasarkan setiap penyembelihan kerbau atas persetujuan resmi.

Penyembelihan kerbau disusun oleh peratin sebagai penyesalan atas kekerasan melawan adat-kedekatan hubungan kurban darah ini ke tanah dan kesuburannya dibuktikan melalui kenyataan bahwa pada zaman modern kerbau disembelih atas kemarau panjang dan gagal panen. Horst menceritakan menjelang abad ke-19, orang Abung berikrar sumpah dengan menghentakkan pedang ke tanah sebanyak tiga kali.

Pada semua kenyataan ini, kita dapat mengenali keeratan hubungan kurban darah dengan ritual kesuburan, tiang kurban memiliki makna khusus. Hanya melalui tiang kurban yang terbuat dari kayu (pada zaman dahulu dari batu dan menhir), darah (sebagai pembawa kekuatan gaib dan kesuburan tanah). Tradisi dari batu Kenjangan dan batu Kepangpang merupakan bukti untuk arti penting menhir dari batu ini.

Kurban kerbau juga dilakukan orang Garo di Assam pada zaman modern dalam pesta permakaman. Binatang diikat pada tiang batu berbentuk Y. Di Lushei Manipur, tiang yang sama tetapi terbuat dari kayu dibuat sebagai tugu peringatan untuk perayaan. Begitu pula bangsa semenanjung Asia Tenggara ini termasuk ke dalam lapisan budaya yang sama seperti orang Abung pada zaman dahulu. Mereka semua adalah petani yang membuka hutan, kereligiusan memiliki peran penting dengan gagasan terkait dengan perburuan kepala dan ritual kesuburan. Para pembuka lahan memberikan banyak contoh dalam penggunaan tiang dan menhir untuk peristiwa-peristiwa serupa di Asia Tenggara. Penyembelihan kerbau ini ditemukan sebagai ritual kesuburan hingga ke Indonesia bagian timur.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR