KUBURAN kepala Irawan di kaki korban terbunuh menjadi objek pengamatan yang berharga Friedrich W Funke. Saat dia tiba di hutan belantara di lereng bukit utara Gunung Abung guna menemukan makam Minak Paduka Begeduh, pahlawan suku semua orang Abung.

Pemimpin suku ini dibunuh oleh raja di Laut. Putra-putranya membalas dendam dan membunuh si pembunuh ayahnya. Kepala dari Raja di Laut yang terbunuh dikuburkan di kaki Minak Paduka Begeduh. Sementara bagian kiri dan kanan di samping pemimpin, dikuburkan putra dan cucunya. 



Tidak diragukan lagi, pada penguburan kepala Irawan atau musuh yang terbunuh di kaki orang yang dibunuh dilakukan upacara gaib. Kekuatan gaib musuh yang terbunuh, atau pengganti Irawan, dilakukan sedemikian rupa dalam upacara untuk menghormati atau memberi kedamaian bagi yang mati.

Du Bois menyetujui bahwa pada zaman dulu si pembunuh dikirimkan ke suku korban terbunuh yang membunuhnya dalam bentuk yang dijelaskan di Irawan. Maksudnya Irawan baru ditetapkan di zaman baru, setelah lenyapnya pengaruh Bantam di Lampung.

Wawasan mengenai abad terakhir dari sejarah budaya orang Abung memang minim. Namun, gambar keseluruhan  yang dapat dibuat sejak wafatnya Minak Paduka Begeduh, juga zaman 16 generasi terakhir, hanya masih menunjukkan sisa-sisa struktur intelektual dan ekonomi seperti yang ditunjukkan suatu suku para pemburu kepala. 

Sejak orang Abung menghuni dataran besar di wilayah timur, sejak Minak Paduka Begeduh, mereka dipengaruhi budaya Jawa Barat yang memiliki sopan santun, membentuk wajah budaya bangsa ini. Di tepi wilayah Abung, seperti wilayah Tulangbawang atas, adat lama mungkin masih dilakukan lebih jelas dan lebih lama hingga pada batas zaman baru.

Selain itu, peristiwa-peristiwa seperti yang diberikan du Bois memiliki stempel kredibilitas. Namun, ini adalah suatu kesalahan untuk orang Abung pada zaman tersebut, di mana aturan kolonial Belanda menghapus supremasi Bantam untuk menyalahgunakan tradisi pemburu kepala yang sebenarnya. 

Reporter Funke telah berusaha mengumpulkan banyak cerita tentang adat-adat serupa, menceritakan di lokasi lain bahwa itu merupakan hal sangat tercela di zaman tersebut bagi suatu suku apabila seorang budak membunuh salah satu perwakilannya. Dalam hal ini, yang tertua di suku mencari sebuah tempat terpencil, kemudian mereka menyerang, membunuh laki-laki yang tak bersenjata, para wanita, atau juga anak-anak. 

Lalu, membawa kepala mereka dalam arak-arakan kemenangan ke desa. Di sana, kepala-kepala tersebut diperlakukan seperti telah dijelaskan sebelumnya (dikubur di kaki korban pembunuhan). Hanya jika si pembunuh tidak diketahui, diperbolehkan untuk melakukan perburuan kepala yang diperlukan, untuk menyembelih budak warisan dan mengubur kepalanya di kaki orang yang meninggal. 

Du Bois yakin di wilayah yang dikuasai pemerintah kolonial Belanda atau langsung di bawah pengaruh Bantam, Irawan disembelih sebagai kurban darah. Nyatanya, budak yang ditentukan untuk disembelih, dijual dengan penawaran tertinggi. Hasilnya kemudian dibagi pada masyarakat yang berduka akibat pembunuhan. Informan Funke harus menambahkan pada zamannya (sekitar 1820), kurban darah dilaksanakan di tempat terpencil. Dalam hal ini ia menyebutkan kembali, terutama wilayah Tulangbawang, lingkup permukiman kelompok suku Abung Mego Pak.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR