KRUI (Lampost) -- UPAYA pemerintah pusat untuk menjadikan Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar) sebagai sentra pengembangan komoditi  bawang merah, sepertinya harus dikaji ulang.

Hal itu dikarenakan bantuan 40 ton bibit bawang merah dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk 12 kelompok tani yang ada di kabupaten setempat, belum seluruhnya ditanam.



Selain itu, terkait pengelolaan bantuan bibit tersebut diduga tidak sesuai petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan kegiatan pengembangan tanaman sayur dan obat tahun 2018 yang ditentukan Kementan.    

Berdasarkan informasi dari sumber yang terpercaya, menyebut bahwa bantuan 40 ton bibit bawang merah ditujukan kepada 12  poktan itu semestinya ditanam di atas lahan seluas 40 hektare. Namun sejumlah poktan penerima bantuan tersebut justru mengaku tidak siap menanam bibit tersebut karena harus menyewa lahan.

Sedangkan bantuan tersebut dikucurkan berdasarkan proposal yang diajukan Dinas Pertanian Kabupaten Pesibar. Isi proposal itu menyangkut seluruh aspek kesiapan upaya pengembangan, termasuk kesiapan lahan untuk lokasi budidaya bawang merah. Surya Darma ketua Poktan Tunas Karya, Kecamatan Pesisir Selatan mengatakan, di Kecamatannya hanya dua poktan yang menerima bantuan bibit bawang merah dari Kementan.

"Di Pesisir Selatan ini cuma dua poktan yang dapat bantuan. Poktan Tunas Karya di Pekon (desa) Ulokmanik dan Poktan Tunas Harapan di Pekon Marang. Masing-masing menerima 4 ton bibit bawang merah. Saya berani jamin di Pesisir Selatan hanya dua poktan itu yang dapat bantuan," ujarnya, Jumat (7/9/2018).

Disisi lain, Aladin Koordinatir Penyuluh Dinas Pertanian Kabupaten Pesibar justru memberikan keterangan berbeda. Menurut dia, ada tiga poktan di Kecamatan Pesisir Selatan yang menerima bantuan bibit bawang merah tersebut.  "Di Pesisir Selatan itu tiga poktan yang menerima bantuan masing-masing 4 ton. Poktan Tunas Harapan, Tunas Karya dan Poktan Suka Sembayan. Tapi, untuk Poktan Suka Sembayan, satu ton di tanam di Kecamatan Pesisir Utara,” kata Aladin.

 

 

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR