SIAPA yang tak mengenal game? Mulai dari dewasa, remaja, sampai anak-anak pastinya sudah pernah bermain game. Sesuai dengan namanya, game adalah sebuah hiburan berbentuk multimedia yang dibuat semenarik mungkin agar pemain bisa mendapatkan sesuatu sehingga adanya kepuasaan batin.
Dengan dampak itulah, bermain game dapat memberikan efek candu bagi penggunanya. Rasa gembira bahkan emosional pun seketika terpengaruh saat kita bermain game. 

Contoh sederhana, banyak orang tua yang sibuk akan pekerjaan dan tak punya banyak waktu menemani anak. Para orang tua memanfaatkan teknologi dengan mengenalkan permainan multimedia kepada anak-anaknya. Alih-alih dengan anaknya bermain game, orang tua akan dapat membuat anak sibuk dengan game dan tidak rewel atau merengek kepada orang tua. 



Namun, bagi orang dewasa yang punya kesibukan pekerjaan, apalagi pelajar yang harus menimba ilmu, bermain game akan berdampak buruk jika penggunanya tidak memiliki manajemen waktu yang baik. Hal yang mencengangkan, pencandu game online bahkan rela begadang demi menuntaskan permainannya.  Di berbagai negara sudah muncul berbagai masalah serius terkait bermain game. Banyak kasus orang muda tewas karena kelelahan bermain game. Di Amerika Serikat, ayah tiga anak berusia 35 tahun tewas setelah main game 22 jam nonsetop. Pria 20 tahun di Tiongkok juga tewas setelah main game King of Glory sembilan jam setiap hari selama lima bulan. Kasus serupa juga terjadi pada remaja di Indonesia.  

Kecanduan game juga memicu tindakan kriminal. Pernah dilaporkan ada kasus tujuh remaja yang mencuri uang, rokok, dan tabung gas di toko untuk membayar sewa alat game online. Perilaku seperti ini mirip dengan perilaku pecandu narkoba yang mencuri uang untuk membiayai kebiasaannya menggunakan narkoba.
Karena itu, dapat dipahami bahwa badan kesehatan dunia (WHO) memasukkan kecanduan game ke dalam daftar penyakit. Dengan demikian, kecanduan game resmi masuk sebagai gangguan kesehatan jiwa. 

Menurut ICD-11, kecanduan game memberikan dampak kepada penggunanya tidak dapat mengendalikan keinginan bermain game. Lebih memprioritaskan bermain game dibandingkan minat terhadap kegiatan lainnya. Untuk itu, dengan banyaknya aplikasi game yang bertebaran di dunia teknologi, hendaknya kita paling tidak untuk bisa mulai meninggalkan kebiasaan bermain game dengan jangka waktu yang lama. Sebab, hal tersebut dapat menjadi kebiasaan yang buruk dan bahkan dapat mengikat emosi kita hingga akhirnya kecanduan game. 

Sangat disayangkan bila waktu berharga kita. Waktu bekerja, waktu bersama keluarga, waktu bersosial, dan waktu istirahat kita tersita oleh permainan maya yang tingkat kepuasannya tidak ada habisnya. Bagi yang sudah melekat akan bermain game di keseharian, coba untuk pensiun bermain game agar waktu kita tertata lebih baik dan untuk hidup lebih baik.
 
 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR