BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Penggunaan pewarna tekstil tengah marak tercampur pada makanan yang dikonsumsi masyarakat. Bebasnya pemakaian rhodamin B tersebut akibat tidak adanya regulasi yang mengaturnya, sehingga dapat diperjualbelikan kepada siapapun. Padahal zat tersebut dapat  mengganggu kesehatan.
Anggota Komisi V DPRD Lampung, Yandri Nazir menjelaskan penjualan pewarna tekstil tersebut dilakukan secara bebas, karena tidak ada regulasi yang mengaturannya. Sehingga penjualnya pun tidak dapat disalahkan, terlebih dikenakan sanksi.
"Tidak ada aturannya membeli rhodamin B harus menggunakan resep, karena bisa dibeli umum. Jadi tidak bisa disalahkan juga kalau orang menjual rhodamin kepada pedagang makanan. Penjualnya juga tidak tahu kalau barang itu dipakai untuk makanan," kata Yandri kepada Lampost.co, Kamis (24/5/2018).
Menurutnya, sebagai tindakan dalam jangka pendek, petugas BPOM dan instansi terkait lainnya sepatutnya dapat memberikan edukasi tentang bahayanya rhodamin B kepada penjual dan pemakainya, sehingga memunculkan kesadaran terhadap bahayanya pewarna tersebut bagi tubuh.
"Kalau sudah muncul kesadaran itu, maka penjual akan aktif bertanya penggunaannya kepada pembelinya. Jika memang untuk makanan, maka penjualnya bisa menjelaskan bahayanya. Dengan munculnya kesadaran itu juga masyarakat akan menggunakan bahan yang layak bagi kesehatan dalam mewarnai makanan," ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR