SETIAP penjahat memang seharusnya dihukum, apalagi jika merugikan orang banyak. Namun ada juga orang yang sudah nyata melakukan kejahatan SARA, dibebaskan karena tidak cukup bukti.

Hana kidah, api juk kheno lain hak hal jahal kudo. Bang tibebasko (Loh...itu bukan hal buruk apa. Kok dibebaskan). 



Hal itu yang dinyatakan Komite Tinggi Gereja di Palestina yang mengutuk putusan pengadilan Israel membebaskan ekstremis Yahudi pembakar gereja. Alasan pengadilan, bukti tidak cukup walau pelaku mengakuinya. 

Seperti dilaporkan kantor berita Palestina WAFA, putusan diambil setelah jaksa mencabut tuntutan. Sementara itu, empat pelaku mengakui membakar gereja dan menyemprotkan slogan rasis di tembok gereja. 

Khepa kidah ana, hakha bangik ni. Bebas kik adu ngaku salah, wat-wat gawoh (Bagaimanalah, enak sekali. Bebas karena mengaku salah, ada-ada saja).

Putusan itu adalah penyelewengan dari keadilan, bahkan di pengadilan, ketika sampai pada penuntutan orang Yahudi. Sementara itu, penguasa Yahudi menangkapi pemuda Palestina tanpa tuntutan atau bukti atau proses pengadilan untuk waktu lama dan jumlah mereka mencapai puluhan selama bertahun-tahun. 

Tindakan subversif dan rasis oleh ekstremis Yahudi itu di bawah perlindungan pengadilan dan Pemerintah Israel akan mengarah kepada pembentukan generasi masa depan Israel yang dijejali gagasan dan perbuatan yang bermusuh terhadap orang Palestina. 

Salah seorang ekstremis Yahudi tersebut, yang dituduh membakar gereja itu, Yanoon Reovini—yang dibebaskan pengadilan Israel, juga telah membakar Gereja Tabgha di Pantai Danau Tiberias di Israel Utara pada 2015. 

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR