SANGAT mengejutkan ketika mengetahui adanya anak-anak yang turut menjadi pelaku aksi terorisme di Surabaya belum lama ini. Dunia bermain dan kegembiraan yang melekat pada wajah anak-anak seketika berubah menjadi mimik yang amat mengerikan.

Namun, lagi-lagi anak dalam pusaran terorisme tetaplah sebagai korban. Kali ini mereka justru menjadi korban orang tuanya sendiri yang menyusupkan paham radikal. Fenomena baru yang muncul di tengah kekhawatiran sebagian besar orang tua akan paparan paham tersebut kepada anak-anaknya dari dunia luar seperti sekolah dan kampus.



Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam pernyataannya menyampaikan kondisi anak-anak yang masih sangat labil dan mudah dipengaruhi menjadi modus baru teroris yang kini merekrut pelaku anak dengan menyusupi mereka pemahaman radikal. Peran serta dan kewaspadaan orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar pun lagi-lagi dibutuhkan.

Di sisi lain, jauh hari sebelum munculnya fenomena anak-anak dalam pusaran aksi terorisme, sebuah penelitian yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip) pada 2011 perlu dicermati.

Data yang dirilis lembaga tersebut menunjukkan kalangan pelajar di Indonesia sangat rentan terpapar paham radikal. Dari survei terhadap siswa di 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri di sejumlah daerah di Indonesia, diketahui 48,9% siswa ternyata bersedia terlibat dalam aksi kekerasan yang terkait dengan agama dan moral.

Munculnya sosok anak-anak, pelajar, hingga mahasiswa yang tidak lagi mampu menunjukkan wajah ramah kepada mereka yang berbeda atau bahkan cenderung radikal, tidaklah melalui proses yang instan. Jika anak-anak adalah peniru ulung, ada sosok-sosok penting yang ditiru dari apa yang kini dilakukan oleh mereka.

Sebagai lingkungan sosial pertama, keluarga sudah semestinya memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada lingkungan lain. Orang tua sebagai figur utama dalam lingkungan ini, perlu kembali merengkuh apa yang seharusnya ditiru oleh anak-anaknya. Mampu menanamkan pemahaman bahwa yang berbeda tak selalu menjadi musuh yang mesti dilawan.

Sementara lembaga pendidikan seperti sekolah dan kampus pun seharusnya menjadi lingkungan sosial yang lebih besar dan tidak eksklusif bagi anak. Harus mampu menjadi lingkungan yang benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat yang nyatanya memang tak seragam.

Sebagai sosok digugu dan ditiru, para guru jangan justru tidak mampu memberikan pengaruh. Tak cukup hanya dengan menyampaikan pendidikan karakter di depan kelas. Sebab, karakter semestinya lahir dari perilaku keseharian yang kemudian diterapkan para peniru ulung, anak-anak didiknya.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR